Butta bersejarah, itulah merupakan julukan yang telah disematkan untuk kabupaten Gowa. Hal ini juga yang telah menjadi alas an, di kabupaten Gowa dapat menemukan banyak sekali peninggalan masa kerajaan yang mempunyai nilai historis yang tinggi.

Gowa pada awalnya adalah sebuah kerajaan terbersar yang ada di Sulawesi Selatan. Dikenal dengan tempat awal mula syiar agama islam sebelum merambah ke seluruh wilayah yang ada di Sulawesi atau Sulsel.

Sehingga selain mempunyai sebuah nilai historis, Gowa juga telah dikenal sebagai tempat yang mempunyai cerita religi yang sangat kental.

Peninggalan dari kerajaan Gowa bahkan sampai sekarang masih ada yang utuh. Tidak sedikit diantaranya yaitu sudah menjelma menjadi tempat wisata yang dilindungi. Serta yang menarik, yaitu ada banyak bangunan fundamental peninggalan Kerajaan Gowa yang terawatt dan utuh sampai saat ini.

Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo

Kesulthanan Makassar merupakan salah satu Negara Islam yang terletak di bagian selatan Pulau Sulawesi pada abad ke-16. Awal mulanya dari kerajaan ini terdiri dari kumpulan kerajaan kecil yang saling bertarung. Kemudian, di daerah itu akhirnya dikumpulkan kerajaan kembar yaitu kerajaan Gowa dan Tallo, untuk menjadi sebuah kesulthanan Makassar.

Pengaruh dari embrio pendiri Makassae, kerajaan Gowa dan Talas yang berada di semenanjung barat daya Sulawesi, telah menjadi sebuah tempat yang sangat strategis untuk jalur perdagangan rempah-rempah. Selain dengan menjual rempah-rempah, pedagang muslim yang menjual juga mempunyai kontribusi yang signifikan terhadap penyebaran agama Islam ini.

Tentunya ada banyak peninggalan sejarah dari kerajaan Gowa Tallo ini karena adanya sebuah kisah sejarah yang telah menceritakan betapa hebatnya kerajaan ini dan bagaimana dapat berapa pada masanya.

Berikut ini adalah beberapa peninggalan dari kerajaan gowa tallo, antara lain sebagai berikut::

1. Benteng Ford Rotterdam

 Benteng Ford Rotterdam
sumber : ruangbelajar.com

Benteng Ford Rotterdam atau dapat dikenal dengan Benteng Ujung Pandang oleh masyarakat setempat merupakan bagunan benteng  yang berasal dari peninggalan kerajaan Gowa Tallo, yang terletak di pantai barat kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini untuk pertama kali dibangun oleh Raja ke-9 Gowa, yaitu Raja Manringau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tmapa’risi ‘Kallona. Pada tahun 1545 Masehi.

Pada awalnya, bangunan benteng ini dibangun dengan tanah liat, dan pada akhirnya di bawah pemerintahan raja ke-14 Gowa yaitu, Sulthan Alauddin, kemudian dilakukan sebuah renovasi atau perbaikan bangunan benteng dengan menggunakan padas dari pegunungan karst yang terletak di daerh Maros.

Bentuk dari benteng ini yang menyerupai kura-kura yang ingin merangkak ke laut. Dari segi bentuk, filosofi dari kerajaan Gowa dapat terlihat jelas dengan bangunan ini, yang berarti kura-kura dapat hidup di darat dan juga di laut, berarti bahwa kerajaan ini dapat menahan semua jenis ancaman dari luar atau dari dalam kerajaan tersebut.

Kita harus mengetahui bahwa awalnya benteng ini disebut dengan benteng Ujung Pandang. Namun setelah kerajaan Gowa Tallo mendatangi sebuah perjanjian yaitu perjanjian Bungayya, salah satu dari perjanjian tersebut yaitu mengharuskan kerajaan untuk mengembalikan benteng itu kepada para pasukan Belanda.

Setelah pihak Belanda menguasai benteng ini, kemudian nama dari benteng ini akhirnya diubah menjadi Fort Rotterdam oleh Cornelis Speelman untuk memperingati wilayah kelahirannya di Negara Belanda. Benteng ini juga digunakan oleh pihak Belanda sebagai salah satu tempat penyimpanan rempah-rempah oriental yang ada di Indonesia.

Pada saat ini, di kompleks Benteng Fort Rotterdam, ada sebuah museum La Galigo yang telah berisikan banyak referensi mengenai sejarah Makassar dan juga daerah lain yang ada di Sulawesi Selatan. Bagian benteng dari segi fisiknya masih utuh dan telah menjadi sebuah objek wisata yang telah direkomendasikan untuk di kunjungi ketika di kota Makassar.

2. Batu Pallantikang (Batu Pelantikan)

Batu Pallantikang (Batu Pelantikan)
sumber : pendidikanmu.com

Batu pallantikang atau biasa disebut juga dengan batu pelantikan merupakan jenis batu andesit yang telah diapit oleh batu kapur. Peninggalan yang bersejarah dari kerajaan Gowa Tallo ini telah dianggap oleh beberapa orang sebagai salah satu keberuntungan karena telah diyakini sebagai batu dari surge.

3. Masjid Katangka

Masjid Katangka
sumber : wikipedia

Masjid katangka atau biasa dikenal dengan Masjid Al-Hilal merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Sulawesi Selatan. Masjid ini dinamakan masjid katangka karena terletak di Kelurahan Katangkan, Kec. Somba Opu.

Selain Gowa, ada juga yang berpendapat bahwa masjid ini bernama Katangkan karena bahan dasar untuk pembuatan masjid ini yang berasal dari pohon Katangka.

Masjid ini merupakan salah satu masjid peninggalan dari kerajaan Gowa Tallo yang telah diperkirakan dibangun pada tahun 1603, akan tetapi beberapa dari sejarawan ragu tentang hal tersebut. Pendapat lain juga telah menjelaskan bahwa masjid ini didirikan pada awal abad ke-18.

Masjid Katangka ini sendiri telah dibangun diatas lahan yang seluas 150 Meter persegi. Ada sebuah fitur yang berada di masjid ini yang mempunyai kubah, atap dua lapis ini akan terlihat seperti bangunan Joglo Jawa Tengah.

Masjid ini sendiri mempunyai 4 tiang penyangga yang mempunyai bentuk bulat dan ukuran di tengahnya. Serta masjid ini mempunyai 6 jendela dan 5 pintu.

Ada sebuah perasan yang ada di dalam arsitektur masjid ini, di mana atap dari dua ubun menandakan syahadat, empat pilar dapat menandakan sahabat nabi, 6 jendela dapat menandakan pilar agama, dan 5 pintu menandakan shalat wajib sebanyak 5 kali.

Selain keunikan yang ada di atas, ada juga sebuah karakter unik yang ada di kubah yang berisikan sebuah arsitektur lokal dan Jawa, mimbar yang dipengaruhi oleh budaya Cina dimana di atap podium tersebut mempunyai kemiripan dengan atap pagoda dan pilar-pilar yang berisi arsitek Eropa.

4. Masjid Jongaya (Babul Firdaus)

Masjid Jongaya (Babul Firdaus)
sumber : travel.tempo.com

Masjid Jongaya atau biasa dikenal dengan Babul Firdaus merupakan salah satu masjid yang dibangun untuk pertama kalinya oleh Raja Gowa ke-34, adalah Imakkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Husain Tumenanga ri Bundu’na pada saat perayaan ulang tahun Nabu Muhammad Saw pada tahun 1314 Hijriah.

Menurut informasi yang ada di masyarakat setempat, masjid ini merupakan masjid ketiga yang telah didirikan oleh kerajaan Gowa selain masjid Jami’ Nurul Mu’minin dan masjid Katangka. Arsitektur dari ketiga masjid ini hampir sama karena masih dibangun oleh seorang raja keturunan kerajaan Gowa.

Tujuan dari pembangunan masjid ini yaitu karena adanya perpindahan pusat kerajaan Gowa dari wilayah Katangka ke wilayah Jongayya.

Karena lokasinya yang berada di pusat dari kerajaan, masjid ini juga menjadi salah satu tempat pertemuan para raja untuk mengatur strategi untuk dapat memerangi seluruh penduduk Belanda serta menjadi tempat untuk belajar Islam.

Seiring dengan berjalannya waktu, masjid ini lalu diperluas dari luas aslinya yaitu 100 meter persegi  menjadi 750 meter persegi dan pada saat ini luas dari masjid tersebut telah mencapai 2.000 meter persegi.

5. Masjid Jami ‘Nurul Mu’minin

Masjid Jami ‘Nurul Mu’minin
sumber : bigsta.net

Masjid Jami’ Nurul Mu’minin merupakan salah satu masjid peninggalan kerajaan Gowa Talo yang berada di Jalan Urip Sumaharjo, Makassar. Untuk perkiraan masjid ini telah dibangun sekitar 1700 tahun yang lalu. Serta telah dikatakan bahwa masjid ini didirikan oleh salah satu pengrajin Gowa yang bernama Andi Cincing Karaeng Talengkese.

Untuk tujuan dari pembangunan masjid ini pada waktu itu yaitu untuk dapat membantu orang-orang yang merasa kesulitan untuk pergi ke tempat shalat yang cukup jauh, yaitu masjis Jongayya.

6. Kompleks Makam Katangka

Kompleks Makam Katangka
sumber : eviindrawanto.com

Kompleks Makan Katangka yang terletak di area Masjid Katangka. Di dalam makam ini, ada kuburan keluarga dan juga keturunan raja-raja Gowa, yaitu Sulthan Hasanudin.

Untuk mengenali kuburan tersebut sangatlah mudah, di mana kuburan untuk para raja yang diberi kubah dan sementara untuk kuburan para pemimpin agama dan keturunan kerajaan hanya ditandai dengan batu nisan biasa.

7. Makam Sheikh Yusuf Tajul Khalwati

Makam Sheikh Yusuf Tajul Khalwati
sumber : liputan6.com

Sheikh Yusuf Tajul Khawati atau biasa dikenal juga dengan Sheikh Yusuf Almaqassari Al-Bantani merupakan salah satu seorang ilmuwan hebat yang telah lahir di Gowa pada 3 Juli 1926.

Beliau merupakan salah satu keturunan dari pasangan Abdullah dan Aminah. Pada saat kelahirannya tersebut, Sultan Alauddin yang memberikan kehormatan memberi nama langsung, nama yang telah diberikan yaitu Muhammad Yusuf.

Sheikh Yusuf mempunyai pengaruh besar pada penduduk yang ada di Gowa Tallo terhadap para penjajah. Dengan pengaruhnya yang besar dapat mengganggu para penyerbu, kemudian beliau diasingkan ke Sri Langka, India, pada bulan September 1684, kemudian diasingkan ke Cape Town, Afrika Selatan. Ketika beliau meninggal, jenazahnya kemudian dipulangkan ke wilayah asalnya, yaitu di Makassar dan tepatnya di dataran rending Menung, sebelah barat masjid Katangka.

8. Istana Balla Lompoa

Istana Balla Lompoa
sumber : aspirasirakyat.com

Istana ini adalah bagian dari warisan sejarah kerajaan Gowa Tallo, yang terletak di Kec. Somba Opu, Kab Gowa yaitu tepatnya di desa Sungguminasa.

Istana ini telah dibangu pertama kali oleh salah satu raja ke-3 Gowa yaitu I Mangimangi Daeng Matatu Karaeng Bonionompo, Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin Tumenangari Sungguminasa.

Setelah melalui proses renovasi, pos-pos yang ada di istana sekarang adalah 54, dan kemungkinan ada penambahan masa depan. Istana ini mempunyai 6 jendela di sisi kiri dan empat jendela depan yang mempunyai fungsi museum yang berguna untuk menyimpan benda-benda yang bersejarah dari kerajaan Gowa Tallo.

9. Benteng Somba Opu

Benteng Somba Opu
sumber : celebes.com

Benteng Somba Opu merupakan benteng yang ada di dalam sejarah kesultanan Gowa yang telah didirikan oleh raja ke-9 Gowa, yaitu raja Daeng Matanre Tumapa’risi’ ‘Kallonna pada abad ke-16. Benteng ini yang terletak di jalan Daeng Tata, kel. Benteng Somba Opu, kec. Barombong, kab. Gowa, Sulawesi Selatan.

Pada zaman terdahulu, tempat ini dulunya adalah sebagai pusat perdagangan pelabuhan dan rempah-rempah, yang telah diperdagangkan untuk para pedagang dari Asia dan Eropa.

Namun, tempat ini telah berhasil ditaklukkan oleh VOC pada tahun 1969, yang kemudian dihancurkan sampai tenggelam oleh ombak, Benteng ini kemudian berhasil ditemukan kembali pada tahun 1980-an oleh para ilmuwan yang datang ke situs tersebut.

Kemudian pada tahun 1990-an sebelum benteng ini dibangun kembali sampai terlihat lebih baik dari sebelumnya.

Tempat tersebut telah menjadi salah satu kunjungan bersejarah karena ada rumah-rumah tradisional da nada juga sebuah museum yang berisi benda-benda bersejarah dari kerajaan Gowa ini. Tidak akan kalah menariknya, di tempat ini juga telah ditemukan sebuah meriam dengan panjang 9 meter dan berat kurang lebih 9.500 kilogram.

Demikian sedikit pembahasan tentang 9 peninggalan dari Kerajaan Gowa Tallo beserta penjelasan dan gambarnya dari kami.

Semoga Bermanfaat Bagi Para Pembaca Sekalian.

 

9+ Peninggalan Kerajaan Gowa Tallo: Penjelasan dan Gambar {Lengkap}

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *