luqman Hai nama saya Luqman, saya adalah seorang publisher asal Bojonegoro Jawa Timur, saya seorang anak desa yang ingin sukses di dunia marketer.

7+ Senjata Tradisional Jawa Tengah, Penjelasan dan Gambarnya lengkap

7 min read

Senjata Tradisional Jawa Tengah

Senjata Tradisional Jawa Tengah – Senjata merupakan salah satu benda yang dapat memberikan pertahanan diri bagi pemakainya. Sebuah senjata adalah hal yang penting untuk masyarakat yang hidup di lingkungan alam yang keras, rawan konflik dan juga terjajah.

Dengan adanya begitu, persaingan di dalam hal kemutakhiran di bidang persenjataan merupakan hal yang sangat wajar. Persaingan ini dapat membawa satu kelompok masyarakat untuk berinovasi dalam penciptaan sebuah senjata khasnya masing-masing.

Dengan begitu, penciptaan dari sebuah senjata ini akan menciptakan masyarakat yang aman dan mampu untuk mempertahankan kelompoknya dari serangan kelompok lain. Pertahanan dan juga penyerangan memakai senjata sudah terjadi sejak zaman prasejarah.

Pada zaman dahulu, kelompok manusia saling bertempur untuk dapat merebutkan wilayah dan juga ladang yang kaya akan bahan pangan.

Sejarah Senjata Tradisional Jawa Tengah

Senjata Tradisional Jawa Tengah

Pertempuran dan juga perebutan wilayah kekuasaan yang sudah dialami oleh manusia dalam sejarah dapat diamati dengan berbagai penggambaran di dinding goa, relief canda, atau cerita rakyar yang hidup di suatu daerah terjadi.

Dengan adanya bukti tersebut, kita dapat mengerti bahwa pada zaman dahulu manusia sudah memakai senjata sebagai alat yang sangat vital dalam kehidupan berkelompok. Pemakaian dari senjata pada zaman dahulu dapat digambarkan masih bersifat tradisional.

Sifat tradisional yang sudah ada pada senjata ini diperoleh berdasarkan bahan bakunya yang masih bergantung pada alam, teknik pembuatannya yang masih sederhana, dan juga desain yang simple dan monoton.

Seiring dengan perkembangan zaman, senjata yang dahulunya digunakan sebagai alat untuk membela diri maupun kelomok sudah beralih menjadi benda-benda pusaka, properti tata busana dan juga sebagainya.

Meskipun begitu, masih saja terdapat kelompok masyarakat yang memakain senjata tradisional sebagai salah satu alat untuk membantu berbagai keperluan.

Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas tentang senjata tradisional Jawa Tengah yang masih hidup dan tentunya mempunyai guna dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Yuk, simak penjelasan dari Restuemak.com sebagai berikut ini:

Baca juga: Senjata Tradisional Indonesia

Macam-Macam Senjata Tradisional Jawa Tengah

Oke, kita akan langsung masuk ke dalam pembahasannya. Disini admin akan menjelaskan ke kalian semua sekilas tentang berbagai macam senjata tradisional khas Jawa Tengah. Mulai dari pemakaiannya, bahan pembuatannya, cara membuatnya dan lain sebagainya.

Langsung saja berikut ini adalah penjelasan dari senjata tradisional Jawa Tengah yang wajib untuk kalian simak dengan seksama, berikut adalah penjelasannya:

Senjata Tradisional Keris

Senjata Tradisional Jawa Tengah

Keris merupakan salah satu senjata tradisional dari daerah Jawa Tengah yang sangat terkenal kemasyuran dan juga bentuknya. Senjata ini memang banyak sekali dijumpai di berbagai daerah di wilayah Nusantara.

Hal ini dikarenakan sejak zaman kuno, keris ini sudah mempunyai arti yang begitu penting terutama dalam perkembangan sejarah kebudayaan bangsa Indonesia.

Pada masa kejayaan Majapahit dan juga Mataram Islam, keris merupakan benda yang memiliki arti mendalam sehingga menjadi sebuah benda yang sangat penting untuk keberadaan sebuah kerajaan.

Keris atau dapat disebut juga “Curiga” atau “Dhuwung” ini termasuk di dalam kategori benda yang dinamakan tosan aji (tosan yang berarti besi dan aji yang berarti dihormati karena mempunyai kelebihan). Oleh karena itu, perawatan dari senjata keris ini sudah menjadi sangat special.

Senjata keris adalah salah satu khasanah budaya asli di Indonesia yang luar biasa. Dengan relief candi-candi Jawa dan prasasti batum dapat juga diketahui bahwa masyarakat Indonesia sudah mempunyai kemampuan menciptakan karya seni pahat dan juga pengolahan besi yang cukup bagus.

Di dalam prasarti yang ditemukan di Desa Dakuwu, Magelang, Jawa Tengah misalnya, terdapat gambar-gambar dan juga tulisan di dalam huruf palawa yang menunjukkan gambar seperti kapak, belati, sabit, keris dan juga pisau. Ini dapat menunjukkan bahwa masyarakat nusantara pada masa lalu sudah mengenal seni pahat yang mempunyai kualitas tinggi.

Di dalam masyarakat Jawa terdapat sebuah kepercayaan tentang senjata tradisional keris, yakni bahwa keris telah diyakini mempunyai daya magis karena disertai dengan laku tapa brata terutama dari para empu yang membuat keris tersebut.

Oleh sebab itu, bilah keris ini sangat jarangs ekali dikeluarkan dari warangkanya. Namun, jika ditemui dengan kondisi yang sangat terdesak atau terpaksa, keris akan ditarik dengan penuh hati-hati dan juga rasa hormat.

Untuk dapat memperoleh senjata tradisional Jawa Tengah ini, perlu untuk dilakukan sebuah upacara pula. Selain itu, keris yang telah dimiliki oleh seseorang dalam budaya masyarakat Islam Nusantara juga dapat disertai pemberian nama.

Hal ini merupakan sesuatu yang biasa. Pemberian nama juga dapat dilaksanakan kepada benda-benda lain yang telah dianggap mempunyai kesaktian.

Senjata Tradisional Kalimantan Selatan

Senjata Tradisional Thulup

Senjata Tradisional Jawa Tengah

Senjata Thulup merupakan salah satu senjata tradisional Jawa Tengah yang berbentuk silinder dengan anak panah yang cara pemakaiannya yaitu dengan cara ditiup.

Senjata ini mempunyai kesamaan dari segi bentuk dan juga cara kerja dengan senjata khas Kalimantan Barat, yakni sumpit. Namun, thulup mempunyai ukuran yang lebih pendek jika dibandingkan dengan sumpit.

Senjata tradisional Jawa Tengah ini terbuat dari bahan yang sangat mudah sekali untuk dijumpai di alam, yakni bambu.

Bambu ini dipilih yang sudah berusia agak tua agar mempunyai daya tahan sehingga tidak mudah pecah ketika dikenakan.

Bambu ini lalu dipotong dengan ukuran 10-15 cm sesuai dengan rongga bambunya.

Peluru yang berasal dari thulup disebut sebagai anak thulup. Anak thulup ini umumnya terbuat dari bambu kecil yang sudah dibuat runcing ujungnya atau dapat juga berupa buah-buahan dan juga tanah liat.

Agar dapat melukai para musuh, peluru yang sudah dipilih akan dilumuri dengan cairan racun alami sehingga dapat melumpuhkan target ketika mengenai anggota tubuhnya.

Pemakaian dari senjata thulup ini yakni sebagai senjata ketika berburu. Thulup mempunyai kelebihan tidak mengeluarkan suara yang bising dan tidak memerlukan energy yang banyak.

Dengan adanya begitu, para pengguna umumnya hanya tinggal menunggu targer buruan lewat tanpa harus menggiring atau melakukan pengejaran.

Jika serangan yang  telah dilakukan tentang leher atau kepala dari binatang, maka dalam hitungan 5-10 menit, binatang ini akan pingsan atau bahkan mati jika terkena racun tersebut.

Pada zaman sekarang ini, senjata sudah tidak dikenakan sebagai alat untuk berburu lagi, melainkan hanya dikenakan sebagai mainan pada anak-anak. Peluru yang dipakai juga umumnya terbuat dari kertas yang tidak berbahaya untuk anak-anak.

Senjata Tradisional Plintheng

Senjata Tradisional Jawa Tengah

Plintheng merupakan salah satu senjata tradisional Jawa Tengah yang mempunyai daya pegas untuk melontarkan peluru. Daya pegas ini berasal dari karet yang ada pada sisi atasnya tersebut. Senjata ini di dalam bahasa Indonesia dapat disebut dengan nama ketapel.

Pada zaman dahulu, plintheng juga dikenakan sebagai alat musik untuk melaksanakan aksi perjuangan melawan para penjajah Belanda. Meskipun bersifat tradisional, namun pada kenyataannya jika dikenakan oleh orang yang mempunyai keterampilan dan akurasi, plintengan ini mampu menjadi senjata yang amat mematikan.

Bahan baku dari pembuatan Plinthengan ini adalah kayu yang mempunyai 2 cagak, karet sebagai penghasil daya pegas, dan sehelai kulit hewan maupun kain sebagai tempat untuk menaruh peluru tersebut.

Kayu yang terdiri dari 2 cagak yang dipilih umumnya yang mempunyai kekuatan dan tidak licin ketika digunakan, misalnya kayu pohon the tehan, jambu, asem, dan rambutan.

Kayu tersebut lalu diberu lubang untuk mengikat karet di masing-masing cagak tersebut. Setelah karet terpasang, kemudian kulit binatang dikaitkan dengan karet sehingga dapat menjadi satu kesatuan yang solid.

Untuk peluru dari senjata tradisional Plinthengan ini pada umumnya memakai batu, kerikil, ataupun buah-buahan yang masih hijau.

Pada era modern seperti sekarang ini, plinthengan kebanyakan digunakan sebagai hiburan untuk anak-anak. Melalui senjata plinthengan, para anak-anak dapat berlatih ketepatan dan juga akurasi.

Senjata Tradisional Bengkulu

Senjata Tradisional Kudi

Senjata Tradisional Jawa Tengah

Kudi merupakan salah satu senjata tradisional dari Jawa Tengah, khusunya dari Kabupaten Banyumas yang berfungsi serba bisa. Senjata kudi ini dapat dibilang adalah salah satu senjata khas masyarakat Banyumas.

Hal ini dapat kita amati melalui setiap hari jadi Banyumas, selalu dijumpai sosok Bawor atau maskot Banyumas yang menenteng kudi di tangannya.

Unntuk orang Banyumas, kudi merupakan sebuah alat serba bisa dalam membantu pekerjaan atau kondisi apapun. Dalam pekerjaan Bertani misalnya, kudi dapat membantu di dalam memotong kayu penyangga tanaman rambat. Begitu pula di sektor kehidupan lain misalnya berburu, mencari kayu di hutan dan juga membentuk ukiran.

Karena pemakaiannya yang multifungsi tersebut, bahkan dari masyarakat Banyumas sering dijumpai hanya memakai satu alat saja, yakni kudi ini ketika bekerja dan melaksanakan aktivitas yang telah berkaitan dengan memotong kayu dan bambu.

Tidak jarang pula ada orang yang mampu untuk merampungkan pembuatan meja, kursi, maupun gubug tanpa adanya alat lain selain kudi.

Di daerah Banyumas ini sendiri terdapat tiga jenis kudi yang biasa dipakai oleh masyarakat. Pertama yaitu kudi biasa yang mempunyai manfaat untuk segala jenis bidang pekerjaan dan juga kondisi. Kudi jenis ini mempunyai panjang sekitar 40 cm dan lebar 12 cm.

Kedua yaitu jenis kudi malem. Jenis kedua ini mempunyai bentuk yang meruncing pada ujungnya seperti ikan melem, mempunyai ukuran yang lebih kecil jika dibandingkan dengan kudi biasa yaitu panjang 30 cm dan juga lebar 10 cm.

Kudi ini dipakai untuk membuat penyekar dan juga pagar rumah. Ketiga, kudi arit yang berfungsi untuk mencari kayu bakar, mengambil dedaunan yang tinggi dan juga mencari nira kelapa. Kudi arit mempunyai panjang sekitar 35 cm dan juga lebar 11 cm.

Bentuk dari senjata tradisional Jawa Tengah ini jika dapat kita amati akan mirip dengan postur dari salah satu tokoh pewayangan, yakni Bawor. Tokoh pewayangan ini adalah maskot dari Kabupaten Banyumas.

Selain itu, bentuk dari kudi pada umumnya dianggap melambangkan sosok manusia, yakni mulut (bagian ujung yang membengkok), perut (bagian yang mblenduk), dan juga kaki (bagian gagang senjata).

Senjata Tradisional Tombak Kyai Pleret

Senjata Tradisional Jawa Tengah

Senjata Tombak Kyai Plered merupakan salah satu senjata tradisional daerah Jawa Tengah yang mempunyai kaitan dengan sejarah Kerajaan Mataram, Kerajaan Demak, Kota Solo dan juga Kabupaten Pati.

Menurut cerita yang berasal dari salah satu sumber, asal mula tombak ini tercipta dari alat vital Syekh Maulana Maghribi yang di tarik oleh seorang perempuan yang bernanma Rasawulan.

Syekh Maulana Maghribi yang pada suatu waktu tengah melaksanakan pengelaan di hutan, kemudian berhenti beristirahat di tepi sebuah danau yang tenang airnya.

Pada saat yang bersamaan, seorang perempuan bernama Rasawulan sedang mandi di sebuah danau tersebut. Kemudian Syekh mengintipnya.

Ajaibnya, perempuan tersebut tiba-tiba merasakan getaran di dalam rahimnya yang membuat dirinya hamil.

Rasawulan tidak lama kemudian menyadari bahwa ada seorang laki-laki yang mengintipnya mandi. Ia kemudian marah besar dan juga menghampiri sang Syekh, lantas Rasawulan melampiaskan kemarahannya dengan menarik alat kelamin dari Syekh Maulana Maghribi.

Anehnya, ketika alat kelamin dari Sang Syekh tersebut berada di genggaman tangan Rasawulan, tiba-tiba benda tersebut berubah menjadi sebilah tombak. Di kemudian hari, tombak tersebut diberi nama Tombak Kanjeng Kyai Pleret.

Berdasarkan sejarah yang ada, anak yang dikandung oleh si perempuan Rasawulan kelak diberi nama Raden Kidang Telangkas di Tarub. Anak ini adalah pengguna pertama dari tombak yang sudah menjadi tombak pusaka secara turun temurun.

Silsilah untuk keturunannya adalah sebagai berikut ini: Getas Pendowo, Ki Ageng Nis, Ki Ageng Pamanahan, Danang Sutawijaya, Sunan Sedo Krapyak, Sultan Agung, Sunan Seda Tegalarum, Prabu Amangkurat dan yang terakhir yaitu Sri Sultan Hamengkubuwono 1.

Sampai sekarang ini, tombak kyai plered sebagai salah satu senjat tradisional Jawa Tengah masih menjadi pusaka nomor wahid di Keraton Yogyakarta. Tidak semua orang dapat menjamah benda pusaka ini kecuali Sultan dan juga para Pangeran Sepuh.

Senjata Tradisional Condroso

Senjata Tradisional Jawa Tengah

Senjata Condroso merupakan salah satu senjata tradisional Jawa Tengah yang juga sudah di temukan di berbagai daerah di Nusantara, seperti yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Senjata ini telah berbentuk seperti tusuk kondhe yang dikenakan sebagai hiasan pada sanggul di busana pernikahan adat wanita Jawa.

Sejak zaman dahulu wanita Jawa memang sudah dikenal sebagai salah satu wanita yang mempu menjaga diri sendiri. Bahkan ketika ada kondisi yang mendesak di tengah pertempuran pun, seorang wanita di Jawa tetap saja mampu untuk melindungi dirinya sendiri. Yakni dengan senjata condroso ini.

Dengan bentuk yang telah berkamfulase pada sebuah rambut, mereka ternyata menyelipkan sebuah benda yang sangat tanjam dan juga mematikan.

Dengan membawa senjata tajap yang telah diselipkan pada ikatan rambut mereka, para pejuang wanita pada zaman dahulu mampu untuk mengelabui laki-laki yang lengah dan juga tergoda.

Di samping itu, condroso ini juga dikenakan terutama oleh para mata-mata ketika melaksanakan pekerjaan mereka.

Meskipun bentuk dari senjata tradisional Jawa Tengah ini tidak sama seperti senjata tajam pada umumnya, namun condroso ini tetap mempunyai peran yang sangat besar di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan para penjajah Belanda.

Dengan ujung yang telah diasah menjadi sangat runcing, para pejuang wanita akan memakainya dengan cara menusukkan pada bagian vital dari tubuh musuh.

Cara yang demikian merupakan salah satu taktik untuk membunuh yang pada zamannya dipakai oleh banyak Negara-negara di dunia.

Pada zaman sekarang ini, senjata condroso sudah tak ditemukan lagi. Namun, anda dapat membanyangkan melalui gambaran tusuk konde dengan ujung yang sangat runcing.

Senjata Tradisional Wedhung

Senjata Tradisional Jawa Tengah

Wedhung merupakan salah satu senjata tradisional Jawa Tengah yang ada pada zaman dahulu lebih banyak dipakai oleh masyarakat biasa. Meskipun begitu, keberadaanya kurang populer jika dibandingkan dengan keris.

Senjata tradisional ini berbentuk layaknya pisau dapur besar yang dilengkapi dengan penutup senjata. Penutup senjata ini pada umumnya ditambahkan hiasan berupa ukir-ukiran yang menambah nilai estetik dari Wedhung tersebut. Penutup senjata ini bernama serangka.

Senjata tradisional Jawa Tengah ini telah terbuat dari bahan besi pada bilahnya. Bilah ini telah didesain mempunyai satu mata bilah yang sangat tajam. Dengan begitu, senjata ini mampu untuk menjadi senjata tikam yang memiliki luka yang fatal.

Pada bagian gagangnya, dipakai bahan kayu jati sehingga dapat membuat senjata wedhung nyaman ketika digenggam.

Pada zaman sekarang ini, sudah jarang sekali menemukan keberadaan dari senjata wedhung ini. Selain bentuknya yang unik dan bernilai seni.

Sejarah yang telah dimiliki oleh senjata ini juga menarik para kolektor baik dari dalam negeri maupun luar negeri tertarik untuk mengoleksi wedging sebagai pajangan maupun koleksi di rumah.

Penutup

Demikianlah sedikit penjelasan tentang jenis-jenis senjata tradisional Jawa Tengah yang wajib sekali untuk kalian ketahui. Semoga dengan adanya tulisan tersebut mampu untuk menambah pengetahuan kalian tentang luasnya budaya negeri ini. Sekian dan terima kasih.

                                                               Senjata Tradisonal Jawa Tengah

Artikel terkait: 

Tarian Jawa Tengah

Pakaian Adat Jawa Tengah

Upacara Adat Jawa Tengah

 

luqman Hai nama saya Luqman, saya adalah seorang publisher asal Bojonegoro Jawa Timur, saya seorang anak desa yang ingin sukses di dunia marketer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *