luqman Hai nama saya Luqman, saya adalah seorang publisher asal Bojonegoro Jawa Timur, saya seorang anak desa yang ingin sukses di dunia marketer.

5++ Senjata Tradisional Sumatera Selatan: Penjelasan dan Gambarnya

6 min read

Senjata Tradisional Sumatera Selatan

Senjata Tradisional Sumatera Selatan – Ada beberapa macam senjata adat Sumatera Selatan yang dikenal oleh masyarakat karena masih eksis sampai sekarang ini. Keberadaaan dari senjata tradisional ini dapat dimengerti sebagai warisan zaman kerajaan.

Selain senjata, Sumatera Selatan juga mempunyai berbagai peninggalan sejarah yang terwujud maupun yang tidak terwujud dan budaya yang sangat kuat.

Senjata trasisional Sumsel yaitu salah satu senjata yang secara bentuk dan juga fungsinya masih merupakan peninggalan dari zaman kerajaan namun sekarang masih diproduksi hingga mengalami pergeseran makna.

Di museum Balaputradewa banyak terdapat beberapa koleksi berbagai peninggalan misalnya yaitu mata tombak, kapak lempar manusia purba, tenun songket dan juga berbagai senjata tradisional lainnya.

Namun tidak semua dari senjata Sumsel adalah peninggalan sejarah karena sampai saat ini masih aktif diproduksi oleh sebagian masyarakat Sumsel hingga sekarang ini. Berikut ini adalah senjata tradisional Sumatera Selatan beserta penjelasan yang akan admin jelaskan dengan detail.

Geografi Sumatra Selatan

Senjata Tradisional Sumatera Selatan

Jika secara geografis Provinsi Sumatera Selatan yang mempunyai luas daerah sebesar 87.017.42 km persegi, berada di antara 1-4 derajat lintang selatan dan 102-106 derajat Bujur Timur. Adapaun batas-batas untuk wilayah tersebut adalah:

  • Pada bagian utara berhadapan dengan Provinsi Jambi.
  • Pada bagian selatan berhadapan dengan Provinsi Lampung.
  • Pada bagian timur berhadapan langsung dengan Provinsi Bangka Belitung.
  • Pada bagian Barat berhadapat langsung dengan Provinsi Bengkulu.

Sumatera Selatan adalah provinsi tujuan investasi, untuk itu di daerah Sumatera Selatan memiliki sarana dan prasarana penunjang, misalnya di kota Palembang terdapat Bandara S.M.

Badaruddin II, Kota Lubuklinggau terdapat juga Bandaara Silampari, di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan ada juga Bandara Agung, sedangkan untuk Pelabuhan Palembang berada di kota Palembang.

Sejarah Singkat Tradisional Sumatra Selatan

Senjata Tradisional Sumatera Selatan

Selain terkenal dengan nama Bumi Siliwangi, Sumatera Selatan sejak abad ke-7 sampai dengan abad ke-12 M, daerah ini merupakan pusat kerajaan Sriwijaya yang terkenal sebagai kerajaan maritime terkuat dan juga terbesar di Nusantara. Pengaruhnya dan kejayaanya bahkan sampai ke Benua Afrika atau Madagaskar.

Berdasarkan makna atau arti pada Prasasti Kedukan Bukit yang ditemukan pada tahun 1926, mengatakan pemukiman dengan nama Sriwijawa ini dibangun pada tanggal 17 juni 683 Masehi. Kota Palembang memperingati tiap tahunnya pada tanggal tersebut menjadi hari jadi kota Palembang.

Lantaran kuatnya penduduk yang telah menjaga harkat dan juga martabatnya, banyak ditemukan alat senjata tradisional dari daerah Sumatera Selatan yang berguna sebagai alat untuk pertahanan diri mereka dari para musuh.

Baca juga: Senjata Tradisional Kalimantan Selatan

Macam –  Macam Senjata Tradisional Sumatera Selatan

Senjata Tradisional Sumatera Selatan

Terdapat berbagai macam senjata tradisional di daerah Sumatera Selatan dan mempunyai keunikan serta ciri khasnya sendiri antara satu dengan yang lainnya.

1. Senjata Tradisional Keris Palembang

Keberadaan dari senjata keris memang tidak lepas kaitannya dengan sejarah jaman dahuu di masa kerajaan-kerajaan Indonesia.

Khusus senjata Keris Palembang, erat kaitannya dengan sejarah perkembangan Kerajaan Sriwijaya yang pada zaman dahulu berkuasa di daerah Palembang dan juga Sumatera Selatan.

Awal mulanya, senjata tradisiional ini memang bukan asli dari wilayah Sumatra, tetapi berasal dari daerah Jawa sampai banyak dikenak beragam jenis Keris Jawa atau Keris Sunda.

Di daerah Palembang sendiri terdapat senjata yang disebut dengan Keris Palembang, yang mempunyai kekhasan tersendiri dan juga berbeda dari keris-keris daerah lainnya.

Keris Palembang mempunyai desain luk atau lekukan bilah yag jumlahnya ganjil, dari yang jenisnya 7 lekukan, 9 lekukan, dan 13 lekukan.

Keris Palembang ini sendiri juga memiliki ciri berupa bentuk sudut yang agak lebar, ukurannya lebih panjang dan lebih lancip.

Untuk membuatnya, Keris Palembang ini menggunakan 3 unsur logam, yaitu pamor, besi dan juga baja.

Ciri khas lainnya yang telah dimiliki senjata tradisional ini yaitu mempunyai gagang yang dibuat dari gading atau kayu keras.

Lalu pada gagang ini dibentuk menyerupai kepala burung, yang merupakan ciri khas dari keris-keris Melayu.

Selain itu, keris Palembang ini juga mempunyai keunikan berupa sarung keris atau pada umumnya disebut dengan istilah Warangka, yang biasanya bentuknya mirip perahu bidar.

Hal ini merupakan simbol atas kedaulatan Kesultanan Palembang, yang di masa lalu menjadi kerajaan Maritim terbesar yang pernah berkuasa di wilayah nusantara ini.

Selain itu juga berfungsi sebagai senjata pertahanan dan juga pertolongan diri, masa lampau keris Palembang juga digunakan untuk simbol kebangsawanan.

Untuk kelengkapan upacara ritual agama dan sebagai bentuk legitimasi kekuasaan, keris ini juga tidak lupa untuk dipakai.

Sampai sekarang ini, keberadaan dari keris masih dipakai, biasanya untuk aksesoris kelengkapan pakaian adat tradisional Sumatera Selatan.

Sama halnya yang berada di Jawa, pada upacara pernikahan adat setempat, keris ini juga biasa digunakan oleh mempelai pria, untuk disematkan dalam busana adatnya.

2. Senjata Tradisional Tombak Trisula

Tombak dengan mata toga atau yang biasa disebut dengan Tombak Trisula adalah senjata khas yang dimiliki oleh masyarakat Palembang.

Tidak banyak yang mengerti bahwa tombak ini sebenarnya merupakan senjata tradisional Sumatera Selatan, karena justru banyak yang muncul dalam cerita-cerita mitologi Romawi dan juga Yunani.

Tidak ada data empiris kapan senjata Tombak Trisula ini mulai digunakan oleh penduduk Sumatera Selatan.

Tetapi menurut keterangan dari sebagian ahli, dipercayai bahwa penggunaan dari tombak trisula ini mulai berkembang sejalan dengan perkengan agama Hindu yang telah dibawa oleh Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan sriwijaya ini sendiri berdiri di wilayah Sumatera Selatan sekitar abad ke-7 masehi sampai abad ke-13 Masehi.

Sisinyalir, senjata tradisional tombal trisula ini adalah senjata tradisional pertama kali yang muncul di sumatera selatan.

Dugaan ini muncul karena trisula ini sendiri merupakan salah satu senjata yang selalu dibawa oleh Dewa Siwa, yang merupakan salah satu dewa dari tiga Trimurti yang ada di dalam agama Hindu.

Selain itu, karena Kerajaan Sriwijawa yang dulunya adalah peguasa jalur perdagangan Asia Tenggara sangat memungkinkan bentuk dari senjata tombak ini mengalami asimilasi budaya.

Karena, selama proses perdagangan berlangsung, tentunya penduduk asli setempat biasa bertemu dengan para pedagang yang biasanya beragama Hindu.

Pada umumnya mereka datang bukan hanya untuk berdagang, tetapi juga dalam misi penyebaran agama Hindu kepada penduduk asli.

Keunikan dari senjata Tombak Trisula ini terdapat di kedua sisinya.

Pada bagian mata tombak, senjata ini memiliki tiga ujung yang berbentuk lancip.

Sedangan pada ujung yang satunya, yang semestinya berbentuk tumpul, justru akan ada tambahan mata tombak yang sangat tajam.

Sekarang ini, tombak trisula biasa muncul sebagai ikon budaya Sumatera Selatan.

Senjata ini biasanya dibuat dengan panjang sekitar 180 cm atau setinggi orang dewasa.

Pada zaman dahulu, tombak trisula ini biasa digunakan oleh bala tentara Kerajaan Sriwijawa sebagai senjata utama, baik itu untuk penyerangan maupun alat untuk bertahan hidup.

Temuan dari senjata trisula di wilayah Sumatera Selatan sekarang disimpai sebagai arekeologis di Museum Balaputradewa.

Untuk masyarakat setempat, senjata ini mempunyai nilai moral tersendiri, yaitu dikenakan sebagai simbol kebijaksanaan dan juga simbol keberanian.

Selain dikenal dengan sebutan Tombak Trisula, masyarakat Sumatera Selatan juga biasa menyebut senjata ini dengan sebutan Serampang.

Pakaian adat Sumatera Utara

3. Senjata Tradisional Skin

Senjata tradisional Skin, yang merupakan salah satu senjata tradisional Sumatera Selatan, mempunyai banyak istilah, diantaranya yaitu Rambai Ayam, Jembio dan juga Taji Ayam karena mempunyai bentuk serupa dengan taji dan ekor ayam jantan.

Skin adalah jenis senjata pisau genggam berukuran pendek, yang digunakan sebagai senjata tusuk dengan bilah dua sisi, melengkung dan juga runcing.

Kemunculan dari senjata ini telah diduga sebagai asimilasi atau penyautan dua kebudayaan, yaitu antara Tionghoa dan juga Melayu.

Pandai besi pada umumnya membuat senjata Skin ini dengan bahan baja berkualitas tinggi, yang tampak seperti Kerambit khas Sumatera Barat dengan ukuran yang lebih kecil lagi.]

Umumnya skin ini dibuat dengan ukuran panjang sekitar 25-30 cm untuk jenis Skin Rambai Ayam, sementara itu untuk Skin Taji Ayam dibuat dengan ukuran antara 10-15 cm.

Pada bagian pegangannya ini sendiri, dibuat dari bahan kayu, yang lengkap dengan baut atau bisa direkatkan juga dengan bilah pada ujung yang tidak tajam, lalu di beri hiasan ukiran secara apik.

Di bagian ujung pegangan ini juga dapat dilengkapi dengan sebutan lubang, yang bertujuan agar Skin ini mudah dibawa dengan jari.

Sementara itu, untuk sarungnya dibuat dari bahan kulit binatang, misalnya kulit sapi dan kambing.

Tetapi, dengan semakin berkembangnya jaman, sekarang sarung ini sudah banyak dibuat dari bahan sintetis yang dikerjakan oleh para penjahit tas kulit.

Untuk bagian pegangannya sendiri, dibuat dari bahan kayu, lengkap dengan baut atau bisa

Biasanya, senjata ini banyak dipakai dalam kondisi mendesak dan juga dalam jarak yang dekat.

Menurut keyakinan masyarakat Sumatera Selatan, senjata Skin ini mempunyai kedudukan yanjg cuku penting dan juga tinggi bagi pemiliknya.

Karena, selain dipakai untuk senjata, Skin ini juga sudah dipercaya sebagai barang keramat yang memiliki kekuatan magis dan sakti.

Sementara itu, menurut beberapa pandangan budaya, senjata Skin memiliki nilai filosofi tersendiri karena mempunyai nilai estetika yang menggambarkan nilai-nilai kemanusiaan, misalnya keindahan, ketekukan, ketelitian dan juga kesabaran.

Nilai keindahan ini terlihat dari bentuk skin yang dibuat sedemikian rupa sehingga memancar keindahannya.

Sedangkan nilai ketelitian, ketekunan dan juga kesabaran ini tampak dari proses pembuatannya yang butuh rasa tekun, sabar dan harus teliti.

Karena keunikannya inilah, desain dari senjata Skin juga ikut diadaptasi dalam bentuk obor Asian Games 2018 dan dikirab mengelilingi seluruh wilayah Asia.

4. Senjata Tradisional Kudhok

Bergeser ke wilayah Pagaralam, yang merupakan salah satu daerah hulu di Sumatera Selatan, juga terdapat varian lain sebagai senjata tradisional yang dimiliki kebudayaan Sumatera Selatan.

Senjata Kudhok adalah salah satu senjata yang berupa sebilah pisau kecil yang mempunyai bentuk mirip dengan Badik khas daerah Lampung.

Bilah Kudhok ini dibuat dan ditempa dari bahan besi yang sangat berkualitas.

Sedangkan, pada bagian sarung dan gagangnya dibuat menggunakan bahan dari kayu jati, kayu ghumai, atau juga kayu nangka.

Pada zaman dahulu, senjata ini biasa dibawa oleh pria-pria Basemah untuk keperluan berjaga diri.

Sementara itu, untuk sekarang kebiasaan membawa Kudhok untuk para bujang masih tetap dilestarikan, terutama untuk masyarakat yang tinggal di Pagaralam hulu.

Kemudian untuk daerah-daerah lain, terutama yaitu untuk masyarakat modern, kebiasaan semacam ini sudah banyak ditinggalkan.

Senjata ini sendiri mempunyai banyak jenis dan juga yang paling disukai yaitu Kudhok dari jenis Luncu, Betelok, Gerahang dan juga Ramai Ayam yang mempunyai bentuk serupa jalu ayam jantan.

Dalam proses pembuatan Kudhok, tahap yang paling lama adalah ketika melakukan proses penempaan dan tahap pembakaran.

Proses ini biasanya membutuhkan waktu lebih lama lagi jika pembelinya memesan Kudhok dalam bentuk custom atau sesuai dengan keinginan mereka sendiri.

Bahkan ada juga pandai besi yang telah memproduksi senjata Kudhok ini, dengan melakukan pendekatan tertentu kepada para pemesan senjata ini, agar nantinya Kudhok yang telah dihasilka sesuai dengan karakter si pemesan.

Pada saat ini, senjata Kundhok bisa didapatkan dengan mudah di daerah Pagalaram karena digunakan sebagai cinderamata untuk para turis, baik itu dari ukuran kecil maupun besar, dengan harga yang dibanderol sampai 250.000 ribu

Selain itu, Kudhok juga banyak sekali dimanfaatkan oleh masyarakat Bumi Besemah untuk kegiatan kerkebun dan juga berladang maupun dipakai sebagai hiasan dan pajangan dalam rumah.

5. Senjata Tradisional Klewang Hembrug

Senjata tradisional Klewang Hambrug adalah salah satu senjata tradisional yang berasal dari provinsi Sumatera Selatan.

Peralatan dari senjata ini memiliki bentuk berupa pedang bermata satu, dengan ukuran yang cukup panjang.

Jika dilihat sekilas, bentuk dari Klewang Hambrug ini hampir sama dengan golok atau kampilan.

Panjang dari senjata Klewang ada beberapa variasi, mulai dari 36 cm sampai 76 cm.

Model dari Klewang ini juga ada 2 macam, yaitu Klewang yang bentuknya pendek sampai dibuat lurus, dan juga Klewang yang bentuknya panjang melengkung.

Walaupun senjata tradisonal ini bersal dari daerah Sumatera Selatan. Namun menurut catatan sejarah, Klewang ternyata juga digunakan pada saat berlangsungnya perang Aceh.

Senjata khas Sumatera Selatan sampai sekarang ini masih banyak digunakan, terutama sebagai alat untuk mempertahankan diri dari serangan musuh atau untuk bertahan.

Akan tetapi, keberadaanya dapat dibilang sangat terbatas, karena tidak banyak pula warga yang menyimpannya sampai sekarang sebagai suatu warisan dari nenek moyang.

Baca juga: Senjata Tradisional Indonesia

Penutup

Nah, itulah tadi sedikit penjelasan tentang jenis senjata tradisional Sumatera Selatan yang ternyata menyimpan berbagai nilai sejarah tersendiri.

Jika dari kalian ada sebuah pertanyaan seputar senjata khas Sumatera Selatan ini, silahkan ketik langsung di kolom komentar di bawah ini, ya.

Jangan lupa untuk memberi like dan share artikel menarik ini, agar teman-temanmu membacanya juga. Sekian informasi dari admin dan terima kasih.

                                                          Senjata Tradisional Sumatera Selatan

luqman Hai nama saya Luqman, saya adalah seorang publisher asal Bojonegoro Jawa Timur, saya seorang anak desa yang ingin sukses di dunia marketer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *