11++ Jenis Tari Perang Nusantara, Simbol Keberanian Para Pemuda

Tari Perang Nusantara – Hampir seluruh suku di Nusantara mengenal tradisi perang, mempunyai seorang pemuda-pemudah yang gagah berani. Mereka harus melewati banyak ujian melalui berbagai tradisi yang sudah dimilki masing-masing suku dari Sabang sampai Merauke. Mereka ditempa agar menjadi salah satu pemuda yang tangguh dan mumpuni dalam teknik berperang melawan penjajah.

Sekarang tradisi peran antara suku memang sudah lama ditinggalkan oleh sebagian besar suku di Nusantara ini. Namun semangatnya masih terus tertanam, terjaga dan dituangkan dalam bentuk tarian yang telah disajikan pada acara-acara tertentu.

Tidak ada lagi pertumpahan darah, tidak ada lagi permusuhan, tarian perang ini justru sudah menjadi ciri khas masing-masing suku sebagai Pemersatu Bangsa ini, sekaligus sebagai pertunjukan seni sebagai daya tarik wisatawan.

Berikut ini restuemak.com akan sedikit menjelasan tentang jenis tari perang yang ada di Indonesia ini dilengkapi dengan penjelasannya:

1. Tari Fataele, Nias, Sumatera Utara

Tari ini dapat menggambarkan perjuangan para nenek moyang dari Suku Nias dalam mempertahankan kampung atau desanya dari serangan kampung lain.

Tari Fataele tidak dapat dipisahkan dengan tradisi Lompat Batu Nias, karena lahirnya berbarengan dengan tradisi Hombo Batu atau lompat.

Budaya lompat batu ini merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh suku Nias dalam mempersiapkan para pemudanya untuk berani berperang.

Baca juga: Tarian Jawa Tengah

2. Tari Tobe, Papua

Tari Tobe adalah tari perang khas suku Asmat, suku yang telah mendiami di daerah Papua. Pada zaman dahulu, tari Tobe ini dibawakan untuk memberi semangat bagi warga yang akan berperang.

Sekarang ini tari Tobe ditampilkan sebagai tari pertunjukkan, seperti untuk menyambut tamu penting yang akan datang ke Papua.

Tari ini dapat dibawakan oleh pria yang berlenjang dada dan menggunakan rok yang terbuat dari akar dan juga daun. Tidak lupa, pada bagian kepala terpasang ikat kepala khas Papua yaitu tombak dan busur, untuk properti yang dikenakan dalam tari ini. Sementara itu, alat musik pengiringnya ialah tifa.

Baca juga: Tarian Maluku

3. Tari Perang, Papua Barat

Tari ini termasuk ke dalam tarian kelompok, bahkan dapat menjadi tarian kolosal yang ditarikan oleh kaum pria. Keberadaan dari tarian rakyat di Papua ini sudah ditemukan pada ribuan tahun yang lalu.

Tidak sedikit dari para sejarawan dan juga antropologi menyimpulkan bahwa tari perang yang berasal dan juga telah dikenal oleh masyarakat Paua Barat adalah tarian peninggalan masa prasejarah Indonesia.

4. Tari Tua Reta Lo’u, Maumere, NTT

Tarian ini adalah salah satu tarian tradisional dari Maumere yang menggambarkan teknik perang leluhur orang Maumere dan etnik Sikka Krowe pada masa lampau.

Di dalam tarian ni, seorang pria dalam balutan busana tradisional bakal meliuk di udara dengan tumpuan bamboo setinggi tiga hingga empat meter sambil mengayunkan pedangnya.

Sementara itu untuk beberapa orang yang berada di bawah memegangi bambu yang dijadikan tumpuan agar tetap berdiri tegak.

Baca juga: Tari Legong

5. Tari Ajay, Kalimantan Timur

Tarian ini dapat menggambarkan tentang peperangan, pantang menyerah dan juga keberanian. Umumnya tarian ini dibawakan oleh para pemuda suku Dayak Kenyah, lengkap dengan perisai dan juga Mandau.

Penarinya bahkan berteriak riuh penuh dengan semangat pada saat membawakan tarian ini. Ajay adalah kata dari bahasa tradisional setempat, yang artinya yaitu teriakan ksatria perang.

6. Tari Papatai, Kalimantan Timur

Tarian ini dapat menggambarkan keberanian para lelaki atau ajal dari suku Dayak Kenyah pada saat berperang melawan musuh. Di dalam masyarakat suku Dayak, tarian ini biasa disebut dengan kancet atau tari papatay.

Pada sajian tarian ini tidak hanya dapat disajikan seni perang atau pertarungan dan pekikan para penari, akan tetapi juga ada unsur teatrikal dan juga gerak tarinya.

Baca juga: Tari Serimpi

7. Tari Kinyah Uut Danum, Kalimantan Barat

Tarian ini adalah salah satu tarian perang yang dapat menggambarkan keberanian dan juga terknik bela diri dalam perang. Sesuai dengan namanya, tarian ini akan datang dari sub suku Dayak Uut Danum di daerah Kalimantan Barat.

Suku dayak Uut Danum ini sudah dikenal mempunyai gerakan dan teknik bela diri yang sangat beresiko, khusunya untuk dapat membunuh musuh. Mandau beracun dan juga perisai di gunakan untuk menyerang dan juga bertahan dari serangan musuh.

8. Tari Caci, Flores NTT

Tarian ini berawal dari sebuah tradisi masyarakat Manggarai dimana para laki-laki saling bertarung satu lawan satu untuk dapat menguji keberanian dan ketangkasan mereka dalam bertarung.

Kata Caci ini sendiri berasal dari kata “Ca” berarti Satu dan kata “Ci” yang berarti Uji. Caci berarti Uji ketangkasan atau uji tarung satu lawan satu.

Baca juga: Tari Tor-Tor

9. Tari Hedung, Flores Timur, NTT

Tari Hedung ini adalah tari perang masyarakat Adonara. Tarian ini dapat dibawakan oleh penari pria maupun wanita dengan mengenakan pakaian tradisional dan membawa senjata perang.

Tari Hedung merupakan tarian ritual masyarakat Adonara dalam mengantar dan juga menyambut para pahlawan dari medan perang. Kata hedung ini berarti menang, dapat diartikan bahwa Tari hedung adalah sebuah tarian kemenangan.

10. Tari Cakalele, Maluku Utara

Tarian perang ini biasanya ditarikan oleh para penari pria. Pada saman dahulu dilaksanakan sebagai tarian perang para prajurit sebelum menuju perang maupun sepulang dari medan perang.

Selain itu, tarian itu juga biasa dijadikan sebagai bagian dari upacara adat masyarakat di sana, para penari yang dilengkapi dengan parang atau pedang dan salawaku atau tameng sebagai atribut berperang.

11. Tari Soreng, Jawa Tengah

Tari Soreng ini berkembang di daerag Magelang, Jawa Tengah. Gerakan dalam tarian ini menceritakan tentang kisah Arya Penangsang ketika ia dan juga teman-teman prajuritnya berusaha merebut Kerajaan Pajang.

Di dalam pertunjukannya, tari Soreng ini dapat dibawakan oleh 10-12 penari laki-laki yang terbagi dalam dua kelompok. Setiap kelompok menggunakan kostum atau busana dengan warna yang berbeda berarti bahwa kedua kelompok ini saling bermusuhan.

Kostum yang digunakan umumnya bermotif bunga. Sama halnya dengan tarian sebelumnya, pernari tari soreng ini juga mengenakan beberapa properti, yaitu tombak dan kuda buatan yang terbuat dari bambu. Tari Soreng ini sering ditampilkan pada acara khitanan dan juga pernikahan.

Baca juga: Tarian Aceh yang Melegenda

Penutup

Nah, mungkin hanya itu saja sedikit informasi yang dapat saya berikan tentang salah satu tarian tradisional Indonesia, yaitu tari perang untuk kalian semuanya. Semoga dengan adanya sedikit informasi ini dapat membantu dan juga menambah pengetahuan Anda.

Jika terdapat kesalahan dan juga kekurangan informasi yang saya berikan mohon untuk dimaklumi ya, sebab itu datangnya dari keterbatasan ilmu yang saya miliki. Cukup sekian dan salamn dari penulis untuk teman-teman restuemak.com dimanapun Anda berada.

                                                                         Tari Perang Nusantara

Tinggalkan komentar