Tari Serimpi: Penjelasan, Sejarah, Gerakan, Makna, dan Fungsinya

9 min read

Tari Serimpi

Tari Serimpi –  Seni budaya Indonesia sangatlah beranekaragam. Bahkan tidak jarang warisan para luhur ini menjadi sebuah identitas daerah dan bangsa. Salah satunya yaitu seni tari, yaitu salah satu cabang kesenian berupa gerakan tubuh secara berirama sebagai media pengungkapan.

Sebelumnya, restuemak.com sudah membahas tentang tarian daerah dari seluruh provinsi di Indonesia. Dimana salah satunya yaitu Tari Serimpi yang akan kita ulas secara lengkap.

Tari Serimpi merupakan salah satu jenis tarian yang berasal dari daerah Yogyakarta dan juga Surakarta. Awal mulanya, tarian khas jawa klasik ini adalah sajian dan juga tradisi yang dilakukan di lingkungan Keraton Kasultanan Mataram. Sampai saat ini, tarian ini masih saja berkembang dan dilestarikan.

Pengertian Tari Serimpi

Tari Serimpi

Sesuai dengan namanya, Serimpi dalam bahasa Jawa mempunyai sinonim yang berarti empat.

Tarian ini sebagian besar dapat ditarikan oleh empar penari yang diiringi oleh musik gamelan Jawa.

Tarian ini mempunyai gerakan tangan yang lambat dan juga anggun.

Gerakan inilah yang merupakan ciri khas dari tarian serimpi ini.

Menurut Kanjeng Brongtodiningrat, jumlah orang yang menarikan tari serimpi ini mempunyai filosofi empat unsur dunia.

Telah diyakini empat penari ini yang mewakili angina, bumi, air dan tentunya api sampai tarian ini memang harus dilaksanakan oleh empat penari. Tarian ini mempunyai durasi pementasan sekitar 45-60 menit.

Jika kita melihat tema tariannya, serimpi mempunyai nuansa yang mistis dan gerakan lembut di setiap langkahnya.

Tarian klasik ini telah dibawakan oleh empat wanita, atau paling banyak lima.

Formasi ini bertujuan untuk mengisi simbol di balik filosofi untuk mewakili tiap masing-masing elemen.

Serimpi merupakan seni yang telah dianggap sebagai pusaka adhiluhung dari Keraton.

Tema yang telah ditampilkan pada tarian serimpi dapat dikatakan hampir mempunyai kesamaan dengan tarian Bedhaya Sanga.

Bedanya dari tarian Bedhaya Sanga ini sesuai dengan namanya yaitu yang dilakukan oleh songo yang artinya Sembilan yang berarti dlakukan oleh 9 penari.

Hanya saja pada tarian Bedhaya Sanga ini menggambarkan pertikaian oleh dua hal yang mengalami pertentangan misalnya baik melawan buruk, benar melawan salah dan akal manusia melawan hasrat manusia.

Baca juga: Tarian Jawa Timur

Sejarah Tari Serimpi

Tari Serimpi

Hampir seluruh jenis tarian ini memiliki sejarah yang menjadi latar belakangnya, begitu pula dengan tari serimpi. Tarian ini berasal pada masa kerajaan Mataram saat Sultan Agung bertahta pada tahun 1613 sampai 1646.

Tari serimpi ini termasuk karya seni tertua di Jawa dan sudah dianggap mempunyai kesakralan dan juga kesucian karena hanya digelar di Kawasan Keraton sebagai bagian dari ritual. Pada masa itu, hanya penari-penari terpilih yang diperbolehkan membawakan tarian ini.

Kemudian pada saat kerajaan Mataram mengalami perpecahan pada tahun 1755 menjadi Kasultanan Yogayakarta dan Kasultanan Surakarta, tarian ini pun sudah terkenan dampaknya. Dampaknya yaitu adanya perbedaan gerakan antara tari serimpi jogja dan Surakarta, meskipun keduanya mempunyai inti tarian yang sama.

Tarian ini lalu terpecah menjadi beberapa jenis, misalnya Serimpi Dhempel, Serimpi Babul Layar, Serimpi Genjung, Serimpi Padhelori, Serimpi Among Beksa, Serimpi Pramugari, dan juga Serimpi Cina yang berkembang di keraton Yogyakarta.

Berikutnya pada tahun 1788 sampai 1820, tarian ini muncul kembali di lingkungan keraton Surakarta. Bahkan sejak tahun 1920 sampai saat ini, tarian ini masuk dalam pelajaran Taman Siswa Jogja, san juga kelompok tari serta karawitan Krida Beksa Wirama.

Selain sudah dikenal sebagai tari serimpi, mulanya tarian ini juga telah dinamakan dengan Srimpi Sangopati yang mempunyai arti kandidat penerus raja. Oleh sebab itu, kata serimpi memiliki arti perempuan. Akan tetapi, ada pula beberapa pendapat dari Dr. Priyono yang telah menyatakan bahwa “serimpi” berasal dari kata dasar “impi” yang berarti mimpi.

Asal Usul Tari Serimpi

Serimpi merupakan salah sau tarian klasik khas yang berasal dari keraton Yogayakarta.

Serimpi dapat dikatakan sebuah tarian klasik karena memang pada saat pertama kali dilakukan pada abad ke-12.

Tarian ini pertama kali diciptakan oleh Pakubuwono IV.

Beliau merupakan pimpinan dari Istana Surakarta Hadiningrat dan juga tarian ini melambangkan sebuah momen kematian.

Nama Serimpi ini sendiri berasal dari kata Srimpi Sangopati, yang mempunyai arti calon pengganti Raja.

Sebagaimana jenis dari tarian khas Jawa lainnya, tarian serimpi ini juga dapat ditampilan oleh musik gamelan yang merupakan instrument tradisional Jawa.

Namun adapula versi lain yang telah menyatakan bahwa asal dari nama serimpi ini sendiri merupakan kata impi atau mimpi.

Adapun dinamakan dengan serimpi karena tarian ini mempunyai durasi sekitar 45 menit sampai satu jam di mana gerkaan para penari yang anggun dapat membawa penonton ke dunia lain seperti halnya mimpi.

Tarian serimpi dapat dilaksanakan oleh empat orang yang dimana semuanya adalah wanita.

Komposisi keempat penari ini dapat melambangkan empat arah kompa, yaitu sebagai berikut ini:

a. Toyo atau air

b. Grama atau api

c. Angin atau udara.

d. Buki atau tanah.

Sedangkan untuk nama perannya yaitu Batak, Gula, Buncit, dan Dhada yang telah melambangkan tenda tiang.

Baca juga: Tarian Lampung

Lakon Tari Serimpi

Di dalam pagelaran tari serimpi, umumnya dapat menggambarkan perang pahlawan-pahlawan dalam cerita Menak, Purwa, Mahabarat, Ramayana dan juga sejarah Jawa lainnya. Tarian ini juga telah mengisahkan peperangan melalui lambang dua kubu, yakni satu kubu yang terdiri dari penari yang terlibat di dalam pertempuran tersebut.

Tema yang ada di dalam tarian serimpi ini mempunyai kesamaan dengan tepa pada Tari Bedhaya Sanga, yaitu menceritakan pertikaian antara dua hal yang saling bertolak belakang. Tarian serimpi ini telah menggambarkan peperangan antara kebaikan dan keburukan, kebenaran dan kesalahan,dan juga pertentangan akal dan nafsu manusia.

Tarian ini juga telah mengambil kehidupan atau falsafah ketimuran. Selain itu, juga sudha menjadi simbol pertarungan antara kebaikan dan kejahatan yang terus berkelanjutan.

Ekspresi peperangan yang terlihat jelas dari gerakan yang ditampilan oleh penari. Penari yang berjumlah dua pasang ini akan melawan para prajurit lain dengan bantuan properti tari yang berupa senjata.

Senjata yang dikenakan dalam tari serimpi, antara lain keris kecil atau cundruk, jembeng atau perisai, dan juga tombak pendek. Pada abad ke-19 atau dibawah pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana VII, tarian ini juga memakai alat misalnya pistol yang ditembakkan ke bawah.

Makna Tari Serimpi

Tari Serimpi

Tarian ini dapat melambangkan kelembutan dan juga keagungan wanita Yogyakarta sebagai gambaran makna atau arti karakter perempuan Jawa yang sesungguhnya. Di dalam perennya, perempuan Jawa wajib memiliki tutur kata halus dan lembut dalam berperilaku.

Tari serimpi ini dapat dibagi menjadi beberapa jenis yang masing-masing memliki arti dan filosodi tersendiri sesuai dengan tokoh yang diceritakan. Misalnya pada serimpi padhlori yang telah mengisahkan kesedihan cinta segitiga.

Akan tetapi dari sekian banyak jenis dari tarian serimpi ini, jenis serimpi sangupati merupakan yang paling banyak untuk dipentaskan. Tarian ini telah mengisahkan tentang calon raja atau putra mahkota yang sudah diharapkan menjadi pengganti raja untuk dapat melanjutkan kekuasaan kerajaan.

Baca juga: Tari Saman

Fungsi Tari Serimpi

Tari Serimpi

Seperti jenis tarian Jawa Tengah dan Yogyakarta pada umumnya, tari serimpi adalah tarian yang berasal dari lingkungan keraton. Pada awal mulanya, tarian ini hanya dapat ditampilkan di lingkungan keraton.

Pada zaman dahulu, tarian ini dapat digelar saat acara pengukuhan sultan atau raja beru, dan acara kenegaraan di keraton. Akan tetapi seiring dengan perkembangan waktu, tarian ini juga dapat dipentaskan oleh masyarakat umum sebagai media hiburan.

Daya Tarik Tarian Serimpi

Tari Serimpi

Ada beberapa hal yang dapat membuat tarian serimpi ini sangat menarik di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Kostum yang unik

Pada awalnya kostum yang dikenakan untuk menampilkan tarian serimpi yaitu khas pakaian putri keraton sultan dengan dodotan dan juga mengkuk bermotif sebagai hiasan kepala.

Penari serimpi yang menggunakan gaun pengantin keraton Yogyakarta sebagai kostum dengan dodotan dan gelung bokor sebagai motif di dalam ornament kepala.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, kostum ini telah berubah menjadi kain seredan dan juga gaun tanpa lengan dengan hiasan kepala bulu kasuari yang diikat dan gelang dengan ornament bunga ceplok dan jebehan.

2. Warisan kerajaan

Sebagai tarian klasik dari keraton Yogayakarta, tarian Serimpi ini sebagai seni luhur dan sudah menjadi warisan kerajaan. Tema-tema dari tari ini yang ditampilkan pada serimpi juga relevan dengan kehidupan yang terjadi saat ini.

3. Dilengkapi dengan properti senjata

Tarian serimpi ini mempunyai ekspresi pertempuran yang terlihat jelas dalam gerakan yang sama dari dua pasangan tentara yang telah didukung dengan properti senjata termasuk belati kecil atau cundrik, tombak, jebeng, senjata, dan jemparing.

Baca juga: Tari Kecak

4. Memiliki mitos raja Jawa

Tarian seperti Bedhaya dan Serimpi ini dapat dikaitkan dengan budaya halus, dan canggih dari pengadilan Jawa, dimana mereka mewujudkan penciptaan mitos raja dan Negara merupakan simbol penting dari kekuatan penguasa.

5. Menceritakan karakter yang kuat

Tarian-tarian ini merupakan disiplin yang telah didedikasikan untuk gagasan tentang rahmat dan juga energy manusia lebih daripada ekspresi energi individu.

Gerakan-gerakan itu, meskipun dapat dikendalikan dan mempunyai banyak gaya, tarian ini ada juga untuk menggambarkan karakter bahkan ketika tarian ini sendiri tidak menceritakan kisah.

6. Diiringi oleh musik gamelan yang indah

Tarian ini dapat diiringi oleh orchestra gamelan yang terdiri dari perkusi perunggu tradisional Indonesia dan juga instrumen yang ditekuk dan bersenar, instrument ini yang dapat menghasilkan alunan yang indah.

Secara garis besar tari serimpi merupakan tarian jawa yang santun berasal dari keraton-keraton Yogyakarta dan juga Surakarta. Lambang tarian wanita Jawa dengan makna simbolis dan juga spiritual yang mendalam.

Kostum dan Properti Penari

Tari Serimpi

Selain gerakan dari para penari yang gemulai dan juga lemah lembut, para penari juga akan tampil cantik dengan kostum dan hiasan khas Jawa. Pada masa lalu, para penari serimpi selalu menggunakan pakaian pengantin putri Yogyakarta.

Akan tetapi pada saat ini busana penari telah berkembang dan berganti dengan memakai baju tanpa lengan bagian atas, dan bagian bawah yang menggunakan kain jarik bermotif batik.

Kepala penari dihias dengan gelungan, bunga, dan hiasan yang berupa bulu burung kasuari. Agar penampilan para penari semakin cantik, dikenakan pula beberapa aksesoris tambahan misalnya gelang, kalung dan anting.

Kemudian untuk mempertegas gerakan yang telah dilakukan oleh penari, turut pula selendang yang diikatkan di pinggang, dan juga keris yang diselipkan pada bagian depan perut menyilang ke kiri.

Baca juga: Tari Pendet

Gerakan Tari Serimpi

Tari Serimpi

Tarian serimpi memiliki gerakan dengan tempo yang sangat halus. Gerakan ini yang dilakukan para penari dengan sangat pelan  dan hal tersebut menjadi ciri utama tarian ini.

Gerakan kepala, kaki dna juga tangan harus dapat dilakukan secara harmonis sampai makna dan simbolnya dapat sampai ke penonton. Untuk jenis tarian serimpi yang herok pun perpindahan antara tempo pelan ke cepat dan sebaliknya harus tetap dapat diatur.

Setidaknya ada 3 istilah dari gerakan dasar dalam tarian ini, antara lain adalah sebagai berikut ini:

a. Maju Gawang

Maju gawang merupakan gerakan berjalan pada saat penari memasuki arena pentas. Gerakan ini juga dapat disebut dengan kapang-kapang yang mengharuskan para penari untuk berjalan belok ke kiri atau ke kanan sesuai dengan pola lantai yang dikehendaki. Gerakan maju gawang yang diakhiri dengan duduk yang dapat mengartikan penari siap untuk menari.

b. Pokok

Gerakan pokok merupakan gerakan ini yang menampilkan adegan sesuai alur cerita yang akan disampaikan. Jika tari serimpi ini dapat menceritakan peperangan, maka properti yang dikenakan yaitu keris.

c. Mundur Gawang

Jika maju gawang merupakan saat masuknya penari ke arena pentas, maka mundur gawang merupakan gerakan akhir pada pementasan tari serimpi dengan keluarnya penari di panggung pagelaran.

Pola Lantai

Di dalam membawakan tari serimpi, pola lantai yang dikenakan yaitu pola horizontal atau lurus. Para penari akan membentuk barisan berjajar secara lurus dan tidak berpindah. Dengan kata lain, para penari hanya berada pada satu posisi. Pola lantai yang dikenakan karena sesuai dengan tempo dan gerakan tarian serimpi yang lembut dan gemulai.

Alat Musik Pengiring

Seni tari serimpi merupakan bagian dari warisan budaya Jawa, oleh sebab itu dalam penampilannya juga diiringi oleh gamelan Jawa. Pada saat penari memasuki dan keluar pentas, akan diiringi oleh gending sabrangan. Kemudian diikuti dengan gendhing ageng atau tengahan, dan hending ladrang. Sedangkan pada adegan peperangan akan diiringi ayak-ayakan dan srebengan.

Jenis Tari Serimpi

Tarian serimpi sudah mengalami perkemangan pesat dari segi waktu pemenasan, pakaian, dampai gerakan. Adanya perkambangan ini dapat menyebabkan lahirnya berbagai macam tarian serimpi lain, akan tetapi jenis lain ini tetap mempertahankan unsur inti tarian.

Berikut ini merupakan jenis tarian serimpi yang ada di Indonesia, adalah sebagai berikut:

Tari Serimpi China adalah salah satu jenis tarian putri yang berasal dari keraton Ngayogyakarta. Sesuai dengan namanya, tarian ini sudah mendapat pengaruh dari budaya China yang nampak pada kostum yang digunakan oleh penari.

Tari Serimpi Padelori adalah jenis tarian yang telah diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwana VI dan VII. Tarian ini juga dilengkapi dengan peralatan berupa pistol dan juga keris kecil yang dapat disebut dengan cundrik. Jenis tari serimpi padhelori ini mengangkat kisah Menak, yaitu perang antara Dewi Sirtu Palaeli dan juga Dewi Sudarawerti.

Tari Serimpi Merak Kasimpir merupakan tarian yang telah diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwana VII. Ciri khas dari tarian ini yaitu adanya peralatan khusus, yakni pistol dan panah atau jemparing. Salah satu yang menjadi daya tarik dari serimpi merak yaitu pemakaian instumen musik yang berupa gendhing merak kasampir.

Tari Serimpi Gendangwati adalah salah satu tarian yang diciptakan oleh Sultan Hamengkubuwana V. Jenis tarian ini dapat dipentaskan oleh lima orang penari yang menceritakan hubungan kekuatan ghai, yaitu kisah Angling Darmo. Properti tambahan yang dikenakan penari serimpi ini yaitu sebatang pohon dan seekor burung meliwis putih.

Tari Serimpi Sangupati merupakan tarian serimpi yang telah diciptakan oleh Pakubuwana IX yang sebetulnya merupakan karya dari Pakubuwana IV yang telah memegang kekuasaan Keraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788 sampau 1820.

Nama sangupati ini berasal dari kata “sang pati” yang artinya yaitu calon pengganti raja. Tarian ini dapat dipentaskan ketika pemberian tahta oleh dua orang penari wanita. Selain itu, tarian ini juga dapat melambangkan kematian bagi Belanda.

Tari Serimpi Anglirmendhug merupakan jenis tarian yang di ubah oleh K.G.P.A.A Mangkunagara I. Pada awalnya tarin ini dapat dimainkan oleh 7 orang penari, namun pada saat ini umumnya dilaksanakan oleh 4 orang penari.

Baca juga: Tari Merak

Tari Serimpi Ludira Madu adalah jenis tarian ciptaan Pakubuwana V pada saat menjadi putra mahkota Keraton Surakarta. Pada saat itu, beliau mendapat julukan sebagai Kanjeng Gusti Pengeran Adipati Anom. Tujuan dari penciptaan tarian ini yaitu untung mengenang sang ibu yang masih keturunan Madura, yakni Adipati Cakraningrat dan Pamekasan.

Keunikan Tari Serimpi

Sama seperti tari daerah lainnya, tarian serimpi juga memiliki sisi unik yang berbeda. Keunikan tersebut menjadi ciri khas tari serimpi, antara lain:

1. Dilakukan Oleh Empat Orang Penari

Tarian yang berasal dari daerah Jogja dan Solo ini dapat disajikan dengan gerakan gemulai dan anggun. Gerakan ini merupakan gambaran dari kesopanan, budi pekerti, dan lemah lembut yang sudah menjadi karakter wanita Jawa. Tari Serimpi ini dapat dilaksanakan oleh 4 orang penari. Meskipun ditarikan dalam jumlah penari yang sedikit, namun tarian ini tetap akan memberikan makna tersendiri.

2. Memiliki Kedudukan Istimewa di Keraton

Pada zaman dahulu sampai sekarang ini, tarian ini mempunyai posisi isimewa di kalangan keraton. Bahkan tarian ini tidak dapat disandingkan dengan tarian lain karena sangat disakralkan.

3. Tarian Suci dan Sakral

Karena memiliki tingkat kesucian dan juga kesakralan yang tinggi, maka tarian ini sudah menjadi pusaka yang melambangkan kekuasaan raja.

4. Hanya Dipentaskan Oleh Orang Terpilih

Masih berkaitan dengan kesakralan tari serimpi, maka tarian ini tidak boleh lagi dimainkan oleh sembarang orang. Hanya para penari terpilih yang lolos seleksi ketat sesuai dengan kriteria yang boleh membawakannya.

5. Tidak Membutuhkan Sesajen

Meskipun tarian ini dikeramatkan, akan tetapi pada saat pementasan dilakukan tidak perlu memakai sesajen. Sesajen ini hanya dibutuhkan pada saat momen atau upacara adat tertentu.

Baca juga: Upacara Adat Jawa Tengah

6. Ragam Jenis Tari Serimpi

Sejarah kasultanan yang terbelah menjadi dua menjadikan tarian ini mempunyai banyak jenis dan variasi yang berkembang di daerah Surakarta dan Yogyakarta.

7. Perkembangan di Luar Keraton

Meskipun sudah menjadi tarian yang sakral, namun tari serimpi juga berkembang di luar keraton. Tari ini dapat disebut serimpi lima karena ditarikan oleh 5 penari.

Tari ini telah berkembang di desa Ngadireso, Poncokusumo, Malang Jawa Timur. Tarian serimpi lima ini pada umumnya digelar untuk membersihkan diri dari berbagai aura negarif dan juga menghilangkan nasib buruk.

Itulah sedikit penjelasan tentang tarian tradisional Serimpi. Sebagai para generasi penerus bangsa, sudah selayaknya tarian ini harus terus dilestarikan melalui berbagai macam cara, misalnya pagelaran, serta juga mempelajari gerakan-gerakannya.

                                                                                      Tari Serimpi 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *