Upacara Adat Bali

Berbicara tentang Bali, selalu ada hal yang menarik untuk dibahas atau diulas. Entah itu dari kekayaan alamnya, kesenian sampai kebudayaannya yang masih lestari hingga sekarang ini.

Salah satu bentuk dari kekayaan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Bali ini adalah upacara adat yang masih terus dibudayakan di sana.

Bahkan untuk para wisatawan, baik itu dari dalam maupun luar negeri yang berkunjung ke Bali,  eksotisme kebudayaan Bali ini juga menjadi salah satu destinasi utama yang diburu.

Kamudian, apa sajakah ritual, tradisi atau upacara-upacara adat Bali yang masih dapat dilihat dan juga dinikmati sampai sekarang ini? Berikut ini sudah kami rangkum beberapa upacara adat Bali dengan penjelasan yang sangat lengkap dan jelas.

Macam-macam Upacara Adat Bali

Macam-macam Upacara Adat Bali

Secara umum Bali mempunyai upacara adat yang digelar dan juga dilaksanakan oleh hampir masyarakat Bali yang beragama Hindu.

Meskipun dalam pelaksanaanya tetap mengacu pada tempat atau desa upacara tersebut berlangsung, misalnya jika ada orang yang ekonominya kurang mampu.

Upacara akan tetap dilakukan hanya saja untuk tingkatannya lebih kecil, tetapi tidak mempengaruhi dari makna upacara adat tersebut. Dengan kata lain tata cara dari upacara adat di Bali ini bersifat fleksibel.

Berukut ini merupakan beberapa macam upacara adat Bali yang biasa dilakukan oleh masyarakat terutama oleh masyarakat Hindu yang ada di Bali.

Upacara Ngaben

Upacara Ngaben di Bali
Upacara Ngaben di Bali

Ngaben merupakan jenis upacara adat yang dilakukan untuk orang meninggal. Setelah seseorang meninggal, tubuh orang tersebut dibakar dan kemudian abunya dihanyutkan ke laut.

Ada beberapa pendapat tentang asal kata ngaben ini sendiri. Ada yang mengatakan ngaben ini berasal dari kata Beya yang artinya bekal.

Ada pula yang mengatakan ngaben berasal dari kata Ngabu yang artinya menjadi abu.

Makna Upacara Ngaben

Berikut ini adalah beberapa makna dari upacara ngaben, diantaranya:

  • Makna dari pembakaran jenazah yang secara tidak langsung atau simbolis bermakna melepas roh dari belenggu dunia, sehingga jenazah kembali dengan tenang dan bertemu dengan tuhan.
  • Makna upacara ngaben yang lain jika ditinjau dari pihak keluarga adalah mereka yang sudah ikhlas melepas kepergiannya.

Sejarah Upacara Ngaben

Ngaben merupakan upacara penyucian roh (atma) sebagai fase pertama umat Hindu Bali dengan melakukan pembakaran jenazah.

Di dalam keyakinan masyrakat Hindu Bali, badan manusia yang terdiri dair badan kasar, badan halus dan karma.

Ketika manusia meninggal, badan kasar inilah yang mati, sedangkan roh (atma) tidak mati. Nah, upacara ngaben merupakan proses penyucian atma atau roh saat meninggalkan badan kasar.

Upacara ngaben ini telah diadopsi dari sastra pada keyakinan umt Hindu India.

Keyakinan tersebut menyatakan bahwa untuk mempercepat proses pengembalian badan kasar ke Panca Maha Bhuta dilakukan dengan cara ngaben atau Kremasi.

Upacara kremasi ini diyakini sudah berlangsung sejak jaman bharata yudha di India pada tahuh 400 SM.

Sejak agama hindu masuk ke Bali pada tahun 768 sekitar abad ke 8, maka kemudian muncullah beragam budaya di Bali. Sejak saat itu juga upacara ngaben Bali dilakukan.

Baca juga: Upacara Adat Jawa Tengah

Macam-macam Upacara Ngaben

Berikut ini adalah beberapa macam upacara ngaben, diantaranya:

a. Ngaben Swasta

Upacara ngaben swasta merupakan jenis upacara ngaben yang tanpa melibatkan jenazah maupun kerangka mayat karena beberapa hal.

Alasannya seperti meninggal di luar negeri atau tempat yang jauh, jenazah tidak ditemukan dan lain-lain.

b. Ngaben Asti Wedana

Upacara ngaben asti wedana merupakan jenis upacara ngaben yang melibatkan kerangkan jenazah yang pernah dikubur.

c. Upacara Ngaben sawa Wedana

Upacara ngaben sawa wedana merupakan jenis upacara ngaben yang telah melibatkan jenazah yang masih utuh atau jenazah tanpa dikubur terlebih dahulu. Biasanya upacara adat ini dilakukan dalam kurun waktu 3-7 hari terhitung dari meninggalnya orang tersebut.

Keunikan Upacara Ngaben

Keunikan dari upacara ngaben atau ngaben ceremony ini terletak pada peralatan yang digunakan selama prosesi.

Contoh keunikan dari upacara ngaben atau ngaben ceremony adalah jenazah yang akan dibakar dalam sebuah patung.

Patung yang telah digunakan pada umumnya berbentuk lembu atau biasa disebut dengan lembu ngaben.

Biaya Ngaben

Biaya ngaben ini sendiri dapat dikatakan cukup mahal karena prosesnya yang panjang. Untuk biaya dari upacara ngaben ini sekitar 150-200 juta rupiah.

Nah, untuk menanggung biaya ngaben dan tenaga lainnya, masyarakt biasa melakukan pengabenan atau ngaben massal atau bersama.

Jadi, untuk jasad orang meninggal dikebumikan terlebih dahulu sebelum biaya mencukupi untuk upacara adat.

Tahapan Upacara Ngaben

Ketika ada yang meninggal, maka pihak keluarga akan mendatangani pendeta untuk menanyakan hari baik dilakukan upacara ngaben.

Pada umumnya, waktu pelaksanaan tidak lebih dari 7 hari sejak orang tersebut meninggal.

Setelah mendapat hari baik ada beberapa tahapan upacara ngaben, diantaranya sebagai berikut ini:

Ngulapin adalah upacara untuk memanggil roh yang meninggal.

Nyiramin atau Ngemandusin adalah upacara memandikan dan juga membersihkan jenazah.

Ngajum Kajang adalah upacara yang ditujukan sebagai kemantapan keluarga yang ditinggalkan, melepaskan kepergian untuk perjalanannya ke alam selanjutnya.

Ngaskara adalah upacara penyucian roh.

Mameras Upacara yaitu menuntun jalan dan karma baik yang telah mereka lakukan bagi seseorang yang sudah memiliki cucu.

Papegatan yaitu upacara yang bertujuan untuk memutuskan hubungan duniawi yang akan mengalami perjalanan roh.

Pakiriman Ngutang yaitu upacara mengusung jenazah dan semua perlengkapan upacara menuju kuburan.

Ngeseng yaitu upacara pembakaran jenazah.

Nganyud yaitu upacara menghanyutkan abu jenazah ke laut atau sungai.

Makelud yaitu upacara untuk membersihkan dan juga menyucikan kembali lingkungan keluarga dari kesedihan setelah ditinggalkan.

Upacara Adat Galungan

Upacara Adat Bali
Upacara Adat Bali

Hari raya galungan merupakan upacara adat Bali yang bertujuan untuk merayakan kemenangan Dharma atau kebaikan melawan Adharma atau kejahatan.

Upacara adat galungan ini dirayakan setiap 6 bulan sekali atau dalam kalender Bali setiap 210 hari, tepatnya di hari Rabu (Budha) Kliwon wuku Dungulan.

Umat hindu dalam upacara adat ini diharapkan mampu untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan, sehingga kebahagiaan dapat diraih dengan kemampuan memenangkan dharma dalam diri manusia.

Ciri khas dari hari Raya Galungan adalah penjor yang akan terpasang sepanjang jalan. Lalu dalam 10 hari setelah upacara galungan, dirayakan hari Raya Kuningan.

Biasanya ketika hari Raya Galungan digelar semua aktivitas di Bali dihentikan. Termasuk juga dalam hal penerbangan baik keluar maupun kedalam Bali.

Upacara Adat Nyepi

Upacara Nyepi di Bali
Upacara Nyepi di Bali

Upacara Nyepi adalah jenis upacara adat yang dilakukan untuk merayakan tahun baru Bali yang berdasarkan tahun Isaka atau tahun Saka yang biasanya jatuh pada bulan Maret-April tahun Masehi.

Nyepi ini berasal dari kata sepi yang berarti sunyi, senyap, lenggang, tidak ada kegiatan sama sekali oleh masyarakat Bali.

Tujuan utama dilakukan upacara Nyepi adalah  untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sanghyang Widhi Wasa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia) dan Bhuana Agung (alam semesta).

Kebiasaan pada Hari Raya Nyepi ini tergolong unik karena pada saat Hari Raya Nyepi tiba, tidak boleh ada satu aktivitas pun yang dilakukan, tidak boleh berbuat gaduh, bepergian dan juga menyalakan lampu.

Terkecuali beberapa tempat penting yang boleh dikunjungi oleh warga pada saat Hari Raya Nyepi misalnya; rumah sakit dan tempat terpenting lainnya.

Makna Nyepi untuk umat Hindu adalah agar dapat mengendalikan hawa nafsu menahan dan mengendalikan segala keinginan.

Tidak sedikit dari masyarakat Bali yang memanfaatkan Hari Raya Nyepi sebagai waktu paling tepat untuk melakukan yoga, tapa, brata dan semedi, sehingga dapat membukan lembaran baru dengan hati yang putih dan bersih.

Baca Juga: Pakaian Adat Bali

Upacara Adat Melasti

Upacara Melasti di Bali
Upacara Melasti di Bali

Melasti atau mekiis atau melis merupakan upacara adat Bali yang  juga termasuk kedalam rangkaian Hari Raya Nyepi. Upacara ini biasanya dilakukan 2-4 hari sebelum tiba hari H (Nyepi).

Umumnya masyarakat Bali yang memeluk agama Hindu bakan mendatangi beberapa rangkaian air yang dikeramatkan misalnya: danau, mata air hingga air laut yang konon menyimpan mata air keabdian atau Amerta.

Pada saat upacara ini berlangsung pemangku Hindu akan memercikan air suci ke kepala setiap orang.

Bertujuan untuk membersihkan semua kotoran dan hal burung di dalam tubuh agar jiwa dan raga kembali suci.

Upacara Adat Ngerupuk dan Ogah-ogah

Upacara Ngerupuk adalah upacara adat yang dilakukan untuk mengusir Bhuta Kala kejahatan yang dilakukan pada sore hari atau sandhyakala.

Upacara ini masih termasuk kedalam rangkaian acara Hari Raya Nyepi dan juga dilaksanakan satu hari sebelum Hari Raya Nyepi tiba.

Setiap masyarakat Hindu di Bali wajib melakukan persembahan kepada sang Bhuta Kala dengan banten meracu, baik di tingkat rumah, desa, kecamatan sampai provinsi Bali yang biasanya dilakukan di perempatan jalan raya utama di kota tersebut.

Ritual ini umumnya dimulai dengan mengobori rumah, dennen nasi tawur, menyemburi pekarangan dan rumah dengan mesiu hingga memukul-mukul benda yang menimbulkan suara gaduh.

Tujuannya yaitu agar mereka (Bhuta Kala) tidak mengganggu kehidupan manusia disaat sedang melakukan brata penyepian.

Setelah semua acara selesai di meriahkan dengan pawai Ogoh-ogoh yang kemudian di arak keliling desa dibarengi dengan warna yang membawa obor.

Upacara Omed-omedan

Tradisi yang tidak kalah unik selanjutnya yaitu upacara Omed-omedan yang seringkali diadakan di Bajar Kaja, Sesetan, Denpasar, Bali.

Upacara ini dilakukan sehario setelah Hari Raya Nyepi dan umumnya dimulai sekitar pukul 14:00 selama 2 jam.

Keunikan dari tradisi Omed-omedan adalah upacara ini hanya berlaku untuk para pemuda-pemudi yang belum menikah di usia 18-30 tahun.

Biasanya pada upacara ini para pemuda-pemudi akan bersembahyang massal di pura, kemudian 2 kelompok pria dan wanita yang belum menikah akan dihadapkan dan ditabrakan kemudian disiram dengan air dan berakhir dengan saling berciuman.

Tradisi ini sudah ada sejak puluhan tahun silam dan juga sudah menjadi satu kebudayaan yang tidak bisa dihilangkan.

Upacara Adat Mepandes

Upacara adat Mepandes atau Mesuguh atau juga dikenal dengan tradisi potong gigi (Metatah) adalah salah satu upacara unik yang dimiliki oleh masyarakat Hindu Bali.

Tujuan dilakukannya upacara Metatah yaitu untuk menghilangkan 6 musuh (sad ripu) yang terdapat dalam diri manusia, diantaranya adalah sebagai berikut ini:

  • Kama adalah sifat yang penuh nafsu indriya
  • Mada adalah sifat kegila-gilaan atau mabuk.
  • Lobha adalah sifat serakah.
  • Matsurya adalah sifat iri hati dan dengki.
  • Krodha adalah sifat pemarah dan kejam.
  • Moha adalah sifat angkuh bingung.

Umumnya upacara adat ini dilakukan ketika anak mulai memasuki masa remaja. Adapun ciri-ciri dari pria maupun wanita yang siap melakukan tradisi Metatah, diantaranya sebagai berikut ini:

Untuk pria biasanya dilakukan setelah mengalami perubahan suara.

Sedangkan untuk wanita dilakukan setelah mendapatkan mentruasi yang pertama.

Untuk prosesi Metatah ini umumnya dilakukan oleh seorang Sangging, yang dipotong yaitu 6 buah gigi taring pada bagian atas.

Baca juga: Tarian Bali

Upacara Adat Tumpek Landep

Tumpek Landep adalah salah satu jenis upacara adat Bali yang dilakukan setiap 6 bulan sekali atau dalam kalender Bali setiap 210 hari, tepatnya jatuh pada hari Rabu (Budha) Kliwon wuku Dungulan.

Kata Tumpek ini sendiri berasal dari kata Metu yang bermakna Mpek artinya akhir.

Jadi dapat diartikan bahwa Tumpek merupakan pertemuan Wewaran Panca Wara dan Sapta Wara, yang dimana pada Panca Wara ini diakhiri oleh Kliwon dan Sapta diakhiri oleh Saniscara (hari sabtu).

Sedangkan untuk kata Landep artinya tajam atau runcing, maksudnya adalah upacara ini dilakukan untuk beberapa pusaka yang mempunyai sifat tajam misalnya; keris dan benda-benda tajam lainnya.

Pada perayaan ini umat Hindu memuja Sang Hyang Pasupati yang sudah memberikan anugerah kecerdasan bagi manusia, sekaligus sebagai tanda wujud terima kasih kepada Tuhan dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Pasupati.

Upacara Adat Otonan

Upacara Otonan adalah salah satu upacara adat yang dilakukan untuk merayakan kelahiran seseorang atau ulang tahun Bali.

Upacara adat ini digelar ketika usia bayi sudah menginjak 6 bulan (210 hari) hingga pada setiap 6 bulan selanjutnya upacara adat Otonan akan dilakukan (namun, dilakukan dengan upacara yang lebih kecil).

Di Bali hari lahir sangat berpengaruh kepada watak seseorang, jika wataknya kurang baik, biasanya masyarakat Bali melakukan upacara lagi dengan harapan bisa mengubah perilaku.

Upacara Adat Saraswati

Upacara Adat Saraswati merupakan salah satu upacara hari raya untuk memuja Sang Hyang Widi Wasa atas manifestasinya menciptakan Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Kesucian.

Hari raya Saraswati ini dilaksanakan setiap 6 bulan sekai (210 hari) tepatnya pada hari Sabtu Umanis wuku Watagunung dan dilakukan dengan prosesi pembacaan dan renungan isi ajaran pustaka.

Kekuatan dari Sang Hyang Widi Wasa dalam perwujudannya dilambangkan dengan seorang Dewi (Saraswati) yang telah membawa semua peralatannya misalnya; alat musik, pustaka suci, genitri, teratai san duduk diatas angsa.

Di dalam pelaksanaan upacara adat Saraswati juga diseligi hiburan misalnya: pentas seni tari, pembacaan sastra, sampai malam sastra selama semalam suntuk.

Upacara Adat Tumpek Uduh

Tradisi upacara adat Tumpek Uduh atau disebut dengan Tumpek Wariga atau Tumpek Ngatag adalah upacara yang masih termasuk kedalam rangkaian Hari Raya Galungan.

Upacara ini dilaksanakan setiap 25 hari sebelum dilaksanakannya Hari Raya Galungnya yaitu tepatnya pada hari Sabtu Kliwon, wuku Wariga.

Tumpek Uduh ini sendiri merupakan bentuk persembahan kepada Tuhan (Desa Sangkara) sebagai penguasa tumbuh-tumbuhan atas manifestasi yang sudah diberikan kepada manusia.

Sekaligus sebagai tanda rasa syukur atas segala limpahan makanan yang berasal dari tumbuhan tersebut dan juga diharapkan agar semua manusia tetap dapat menjaga keharmonisan dengan alam terutama dengan tumbuhan.

Agar dapat terciptanya keseimbangan dan juga hubungan baik dengan alam salah satunya dari bentuk pelaksanaan Tri Hita Karana.

Baca Juga: Senjata Tradisional Bali

Upacara Adat Ngurek

Upacara Adat Ngurek atau disebut dengan Ngunying adalah salah satu tradisi masyarakat Hindu Bali yang cukup ekstrim, sebab dalam tradisi ini telah melibatkan tubuh sendiri yang ditusuk menggunakan keris.

Dalam beberapa ritual keagamaan Hindu upacara adat Ngurek adalah salah satu hal wajib yang harus dilakukan, lantaran menjadi salah satu simbol wujud bakti seseorang yang dipersembahkan kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Awalnya tradisi ini hanya dilakukan oleh para pemangku atau tokoh keagamaan Hindu, namun sekarang siapa saja dapat melakukannya tanpa membedakan status keagamaannya.

Terdapat beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh seorang partisipan agar bisa mencapat klimaks kerasukan, diantaranya adalah sebagai  berikut ini:

Nusdus adalah merangsang para pelaku dengan asap yang beraroma harum.

Masolah adalah tahap menari yang diiringi dengan lagu-lagu dan koor kecak atau bunyi gamelan.

Ngaluwur merupakan tahapan mengembalikan pelaku Ngurek pada jati dirinya.

Masuknya beberapa roh kedalam tubuh partisipan ditandai dengan beberapa kondisi, misalnya badan menggigil, gemetar memekik dan mengerang.

Dengan diiringi suara gamelan, para peserta yang sudah kerasukan akan menancapkan keris ke tubuh bagian atas, misalnya: mata, alis, leher, bahu hingga dada.

Walaupun senjata keris tersebut di tancapkan dan juga ditekan dengan kuat secara berulang-ulang, tidak akan menimbulkan luka atau goresan sedikitpun.

Hal ini disebabkan roh yang berada di dalam diri peserta Ngurek sudah menjaga tubuh mereka, agar kebal dan tidak mempan terhadapt benda-benda tajam.

Upacara Adat Piodalan

Piodalan atau yang dikenal juga Pujawali, Petoyan atau Petirtaan adalah salah satu Hari Raya Besar dalam keagamaan Hindu.

Upacara adat ini termasuk kedalam beberapa rangkaian upacara Dewa Yadnya yang ditunjukan kepada Ida Sang Hyang Widhi untuk sebuah pura atau tempat suci.

Secara harfiah, kata Piodalan ini berasal dari kata Wedal yang berarti “keluar” atau “lahir”, jadi dapat diartikan bahwa Piodalan yaitu upacara untuk merayakan ulang tahun sebuah pura atau tempat suci.

Oleh sebab itu, sudah menjadi hal yang lumrah jika di Bali terdapat hari yang sudah ditetapkan sebagai hari suci perayaan Piodalan atau Pujawali.

Hari Odalan ini sendiri dirayakan berdasarkan pada perhitungan sasih yang merujuk pada kalender Ssaka yang jatuhnya setiap setahun sekali.

Namun, terdapat juga beberapa pendapat yang mengatakan bahwa pelaksanaan Hari Raya Odalan ini mengacu pada perhitungan waktu yang jatuhnya setiap 6 sekali atau 210 hari.

Di dalam pelaksanaannya, upacara adat Piodalan ini bisa digelar dalam skala besar atau kecil tergantung pada kemampuan masyarakat setempat.

Selain itu, untuk pelaksanaannya juga dibagi menjadi beberapa tingkatan, diantaranya:

1. Odalan tingkat Nista

2. Odalan tingkat Madya

3. Odalan tingkat Utama

Akan tetapi terlepas juga dari semua tingkatan tersebut upacara tetaplah upacara yang mempunyai arti serta tujuan yang sama pula.

Tradisi Mesuryak Bali

Tradisi Mesuryak Bali adalah salah satu tradisi budaya leluhur yang hanya bisa dijumpai di Desa Bongan, Kabupaten Tabanan.

Secara makna atau arti, Mesuryak ini berasal dari kata Suryak yang berarti “berteriak” atau “bersorak”.

Menurut kepercayaan orang Hindu, para roh leluhur akan turun ke dunia pada Hari Raya Galungan dan kemudian kembali ke Nirwana pada Hari Raya Galungan.

Sementara itu kegiatan Mesuryak ini dilakukan dengan maksud sebagai tanda penghormatan dan mengantar roh para leluhur untuuk kembali ke Nirwana dengan rasa suka cita.

Di dalam pelaksanaannya upacara adat ini dimulai dari pukul 9 pagi dan lalu berakhir pada jam 12 siang waktu Bali.

Tradisi ini digelar setiap 6 bulan sekali atau 210 hari yakni pada Hari Raya Kuningan yang bertepatan pada 10 hari setelah dilakukannya Hari Raya Galungan.

Lalu para roh leluhur yang akan dilepas kepergiannya akan dibekali dengan banten pangadegan atau istilah Bali nya sesaji yang ditaruh di depan gerbang setempat.

Sesajian ini bisa berupa telur, perasa, pis bolong dan perlengkapan lainnya sebagai bekal untuk para leluhur.

Ketika semua persiapan tersebut sudah selesai, barulah tradisi Mesuryak bisa dilaksanakan. Sebelum prosesinya dimulai, masing-masing dari anggota keluarga memberi bekal kepada roh para leluhur yang sesuai dengan kemampuannya, yaitu berupa uang logam, uang kertas dalam pecahan rupiah.

Uang-uang inilah yang biasanya akan dilempar ke udara untuk diperebutkan oleh warga sekitar, walaupun terdai desak-desak dan sampai terjatuh, seluruh warga melakukannya dengan rasa suka cita tanpa ada sebuah kericuhan sekalipun.

Tradisi Mekare-kare

Mekare-kare atau yang dikenal dengan perang daun pandan adalah salah satu tradisi yang berasal dari Desa Tenganan, Karangasem, Bali.

Tradisi ini merupakan ajang untuk menunjukkan kehebatan, dimana pria yang di desa akan melakukan perang dengan memakai daun pandan.

Umumnya para peserta akan diberikan satu helai daun pandan dan juga satu perisai sebagai pelindung. Daun pandan yang dipakai ini bukan daun pandan seperti pada umumnya, melainkan daun pandan yang berduri tajam.

Tujuan dilakukan tradisi ini yaitu sebagai penghormatan kepada Dewa Indra, yang merupakan salah satu Dewa dalam kepercayaan Hindu.

Setelah peperangan tersebut selesai, maka para peserta akan dirawat dan didoakan oleh orang yang dituakan agar mereka tidak merasa sakit.

Nah, untuk Anda yang ingin menyaksikan keunikan dari upacara adat yang satu ini bisa datang langsung ke Bali pada bulan Juni.

Tradisi Mekotek

Mekotek atau yang biasa dikenal dengan Grebeg Mekotek adalah salah satu tradisi unik khas Bali yang digelar pada setiap 6 bulan sekali yaitu tepatnya pada perayaan Hari Raya Galungan (10 hari setelah Galungan).

Tradisi ini hanya bisa Anda jumpai di Desa Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.

Kegiatan ini digelar dengan bertujuan untuk menolak bala atau melindungi diri dari serangan penyakit dan juga untuk memohon keselamatan.

Pada awalnya, di dalam prosesi pelaksanaan Mekotek ini memakai tongkat yang terbuat dari besi. Namun, untuk menghindari agar lawan atau partisipan tidak terluka, maka digunakan kayu pulet sepanjang 2-3,5 meter.

Tongkat inilah yang nantinya akan dipadukan menjadi satu membentuk formasi sebuah kerucut dan juga menghasilkan suara “tek, tek” sehingga yang dikenal dengan nama Mekotek.

Baca juga: Tari Barong Bali

Tradisi Mepantingan

Tradisi Mepantingan ini adalah salah satu tradisi atraksi seni bela diri tradisional Bali yang masih bertahan sampai sekarang ini.

Tradisi unik ini biasa diadakan di Desa Ubud dan Batubalan yang terletak di Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.

Untuk nama Mepantingan ini sendiri mempunyai arti “saling membanting” yang nama dari kegiatan ini diperlukan kelihaian dan power untuk dapat membanting lawan.

Atraksi seni bela diri ini dilakukan dimana saja, yang penting areanya harus berlumpur sehingga lawan yang akan dibanting tidak luka atau cedera parah.

Itulah beberapa macam jenis upacara adat Bali yang unik dan tentunya penuh makna, sebenarnya masih banyak sekali upacara dan juga tradisi Bali yang belum tersampaikan dalam pembahasan diatas.

Namun dengan ini, setidaknya dapat menambah wawasan Anda sekaligus meningkatkan rasa toleransi antar umat beragama khususnya di Indonesia.

Tinggalkan komentar