Upacara Adat Bangka Belitung

Indonesia merupakan Negara Maritim (Maritime State) atau Negara kelautan. Indonesia memang memiliki budaya kelautan yang amat kaya seperti di Sulawesi sampai Filipina, Myanmar sampai Malaysia, dan Riau sampai Bangka Belitung.

Kekayaan budaya bangsa indonesia dari suku ke suku memiliki ciri khas dan ragam kebudayaan yang berbeda. Hal ini menunjukkan identitas dan ciri khas dari daerah masing-masing.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masih terikat oleh berbagai upacara adat atau tradisionalĀ  seperti Provinsi Negara lain. Nah, berikut upacara adat khas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berikut ulasannya!

PENGERTIAN UPACARA ADAT

Upacara Adat Bangka Belitung
Upacara Adat Bangka Belitung

Upacara Adat adalah suatu rangkaian tindakan yang ditata oleh adat istiadat serta norma hukum yang berlaku serta disepakati masyarakat yang berhubungan dengan berbagai macam peristiwa yang dianggap penting dan terjadi dalam lingkungan masyarakat yang bersangkutan. Upacara Adat biasanya dilakukan secara turun temurun kepada generasi selanjutnya dan masih dilakukan dan dilestarikan.

Selain itu Upacara Adat merupakan warisan kebudayaan yang dimiliki nenek moyang serta memiliki nilai-nilai luhur didalamnya dan mencerminkan kehidupan masyarakat seperti Upacara Pengukuhan Kepala Suku dan Upacara Pemakaman.

Upacara Adat erat kaitannya dengan ritual-ritual keagamaan. Ritual keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat berdasarkan kepercayaan yang dianut oleh masyarakatnya. Kepercayaan seperti inilah yang mendorong manusia untuk melakukan berbagai perbuatan atau tindakan yang bertujuan mencari hubungan dengan dunia gaib penguasa alam melalui ritual-ritual baik ritual agama maupun ritual lainnya.

Baca juga: Upacara Adat Seluruh Indonesia

FUNGSI UPACARA ADAT

upacara adat rebo kasan

Fungsi Upacara Adat terbagi menjadi 3 Fungsi yaitu Fungsi Spiritual, Fungsi Sosial dan Fungsi Pariwisata. Fungsi Spiritual bermaksud adalah pelaksanaan upacara adat berkaitan dengan pemujaan kepada leluhur, roh atau kepada Tuhan untuk meminta keselamatan. Upacara adat memiliki fungsi Spiritual karena upacara adat mampu membangkitkan emosi keagamaan, menciptakan rasa aman, tentram dan selamat.

Fungsi Sosial bermaksud semua yang menyaksikan upacara adat dapat memperoleh atau menyerap pesan-pesan yang disampaikan dalam upacara tersebut. Hal ini, bisa dipakai sebagai kontrol sosial, interaksi, integrasi dan komunikasi antar warga masyarakat, yang akhirnya dapat mempererat hubungan antar masyarakat.

Fungsi Pariwisata bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang datang untuk menyaksikan upacara. Masyarakat yang datang bisa dari lokal maupun dari masyarakat luar.

KEBUDAYAAN DAN ADAT ISTIADAT BANGKA BELITUNG

adat istiadat bangka belitung
adat istiadat bangka belitung

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah sebuah provinsi di Indonesia yang berdiri dari dua pulau utama yaitu Pulau Bangka dan Pulau Belitung. Bangka Belitung dikenal dengan pantainya yang indah, namun juga mempunyai keragaman budaya yang menjadi aset penting untuk mengembangkan pariwisata di Bangka.

Pulau Bangka dikelilingi lautan, karena itu sebagian besar penduduk bekerja sebagai nelayan. Meski saat ini pola hidup masyarakat Bangka telah mulai bergeser, kebudayaan lokal yang mengandung unsur nelayan masih tetap kental mewarnai sendi-sendi kehidupan masyarakatnya.

Seperti contoh, ada dua budaya lokal Bangka yang ikut serta mewarnai kebudayaan Bangka Belitung seperti Upacara Adat Rebo Kasan dan Upacara Adat Buang Jong.

MACAM MACAM UPACARA ADAT BANGKA BELITUNG

Upacara Adat Bangka Belitung

Upacara Adat biasanya dilakukan secara turun temurun kepada generasi selanjutnya dan warisan yang dimiliki nenek moyang serta memiliki nilai-nilai luhur didalamnya dan mencerminkan kehidupan masyarakat.

Nah, berikut macam-macam upacara adat di Bangka Belitung antara lain sebagai berikut :

Baca juga: Upacara Adat Jawa Timur

1. UPACARA NGANGGUNG

Tradisi yang masih melekat dalam tanah Bangka adalah Nganggung, yaitu sebuah kegiatan membawa dulang atau tempat menyusun makanan ke masjid atau langgar yang mencerminkan nilai-nilai kebersamaan, saling membantu antarnegara dalam suatu desa atau kampung.

Nganggung sering disebut juga Sepintu Sedulang karena setiap rumah membawa satu dulang yaitu wadah kuningan maupun seng yang digunakan untuk mengisi makanan dan kemudian ditutup dengan penutup dulang, yaitu Tudung Saji.

Masyarakat Bangka Belitung biasanya duduk bersama-sama makan bedulang. Mereka menyantap makanan sambil saling berbincang. Nganggung Dulang disebut sebagai tradisi budaya masyarakat kepulauan Bangka Belitung. Tradisi iniĀ  bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi sesama warga, supaya tercipta kerukunan dan kedamaian.

2. UPACARA ADAT REBO KASAN

Rebo Kasan adalah upacara tradisional yang diadakan sebagai ritual tolak bala yang dilaksanakan setiap bulan Shafar berdasarkan penanggalan Hijriah di setiap hari Rabu terakhir oleh masyarakat di Kabupaten Bangka yang akulturasi dari nilai-nilai religius, mitos dan legenda nenek moyang.

Upacara Rebo Kasan merupakan ritual Tolak Bala (musibah) sekaligus harapan para nelayan agar hasil tangkapannya melimpah. Keunikan upacara ini adalah peserta ritualnya semuanya menggunakan jubah putih, kecuali tokoh agama (Islam) yang menggunakan jubah putih dan sorban, serta aparat pemerintah yang menggunakan seragam dinas.

Ritual ini dilaksanakan di Desa Air Anyir, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

3. UPACARA ADAT BUANG JONG

Buang Jong merupakan upacara adat yang secara turun temurun dilakukan oleh masyarakat suku Sawang di Pulau Belitung. Upacara Buang Jong dilakukan untuk menyampaikan persembahan kepada Dewa Laut, agar mereka diberikan hasil laut dan memohon agar mereka terhindar dari segala macam malapetaka.

Upacara Adat Buang Jong ini hanya bisa Anda saksikan di Bangka Belitung saja tidak di Negara lain. Salah satu yang terkenal melakukan ritual ini hanya di Desa Kumbung, Kecamatan Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan. Buang Jong berarti ritual yang dilakukan dengan membuang perahu kecil ke laut yang berisi sesaji seperti ayam berbulu hitam.

Saat Buang Jong dilakukan, para nelayan dilarang menangkap ikan dan menebang pohon. Begitu pula, tempat yang akan dijadikan lokasi upacara adat Buang Jong, ditutup dari aktivitas umum seperti wisata.

4. UPACARA ADAT NUJUH JERAMI

Upacara Nujuh Jerami merupakan ritual yang diselenggarakan setiap tahun yang biasanya jatuh pada setiap bulan April. Upacara ini dirayakan oleh komunitas Orang Lom di Dusun Air Abik dan Dusun Pejam. Upacara ini diselenggarakan sebagai wujud syukur atas hasil panen padi (beras merah) dan permohonan atas perlindungan pada musim tanam berikutnya.

Prosesi pelaksanaan ritual Nujuh Jerami disertai dengan kegiatan tarian campak, pencak silat dan dambus yang merupakan satu kesatuan ritual. Setelah itu dilanjutkan dengan silaturahmi antarmasyarakat Lom dan masyarakat sekitarnya.

Acara sedekah ini dilaksanakan 7 hari setelah panen padi dan makan bersama. Dari itulah oleh warga namanya berubah menjadi Nujuh Jemari. Berdasarkan kisah yang disampaikan oleh tokoh adat, ritual ini dimulai sejak zaman nenek moyang mereka.

5. UPACARA ADAT MARAS TAUN

Maras Taun adalah sebuah tradisi yang diselenggarakan setiap tahun di desa atau kampung Belitung Timur. Maras Taun merupakan upacara syukuran panen padi yang dilaksanakan setahun sekali pasca panen padi.

Dalam tradisi Maras Taun ini ada serangkaian acara yang akan digelar. Tradisi ini harus dilaksanakan selama tiga hari yang nantinya di hari ketiga atau hari terakhir akan ada puncak perayaan Maras Taun yang ditunggu-tunggu masyarakat. Pada hari pertama dan kedua, Maras Taun akan ada beberapa pertunjukan kesenian yang digelar seperti Stambul Fajar, Teater Dulmuluk, Tari Piring Khas Minang dan lainnya.

Makna dari tradisi Maras Taun yaitu masyarakat yang meninggalkan tahun lalu dengan ucapan penuh rasa syukur dan juga permohonan agar di tahun depan banyak hal baik yang diperoleh.

6. UPACARA ADAT MANDI BALIMAU

Upacara Adat Mandi Balimau merupakan upacara adat yang dilakukan untuk menyambut bulan suci ramadhan dan dilaksanakan sehari sebelum datangnya bulan ramadhan. Mandi Balimau bertujuan untuk mensucikan diri baik lahir dan batin. Kebanyakan orang kegiatan Balimau ini merupakan ritual wajib yang harus dilakukan.

Balimau itu sendiri adalah mandi bersama di sungai yang menggunakan air yang dicampur dengan limau atau jeruk. Limau yang digunakan bermacam-macam seperti limau purut, limau nipis atau limau kapas.

Selain mandi di sungai dengan limau yang dianggap sebagai penyucian fisik, ajang ini juga dijadikan sarana untuk memperkuat rasa persaudaraan sesama muslim dengan saling mengunjungi dan meminta maaf.

Adapun pelaksanaan Mandi Balimau yang sudah diatur oleh adat. Namun seiring dengan perkembangan yang modernisasi nilai-nilai yang terkandung dalam upacara Balimau ini berubah, sehingga upacara Mandi Balimau ini memiliki pandangan yang negatif di kalangan masyarakat. Namun sebagian besar masyarakat Kampar masih percaya dengan Upacara Balimau ini sehingga mereka masih melestarikan budaya ini hingga sekarang.

Baca juga: Upacara Adat Jawa Tengah

7. UPACARA ADAT PERANG KETUPAT

Perang Ketupat merupakan bagian dari tradisi yang ada di Kepulauan Bangka Belitung, dimana para peserta perang saling melempar ketupat sebagai senjata dalam perang ketupat. Masyarakat menyebutnya sebagai ruwahan Tempilang yang diselenggarakan setiap masuk Tahun Baru Islam (1 Muharam). Tradisi ini bertujuan meminta keselamatan dan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Dalam tradisi Perang Ketupat ini memiliki nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang harus dijaga kelestariannya sehingga mendukung dalam sebuah kesenian atau kebudayaan dalam sebuah tradisi. Tradisi Perang Ketupat ini memiliki ajaran Islam karena saat dilaksanakannya tradisi ini semua orang yang berada tetap berdoa dan meminta perlindungan dengan Yang Maha Esa.

Nilai-nilai yang ada dalam tradisi Perang Ketupat adalah nilai agama yang mencakup nilai aqidah, nilai syariah dan nilai akhlak. Nilai budaya yang tercermin dalam beberapa hal, yaitu pantangan tiga hari, menghanyutkan perahu, dukun tidak boleh mempublikasikan nama-nama makhluk halus dan nilai sosial yang mencakup gotong royong dan kebersamaan.

Di atas merupakan materi mengenai Upacara adat yang ada di Bangka Belitung. Ternyata setiap daerah memiliki adat istiadat yang beraneka ragam jenisnya yang berbeda. Hal ini berasal dari kepercayaan masing-masing setiap daerah.

 

Tinggalkan komentar