Upacara Adat Jawa Barat – Sebagai salah satu provinsi yang memiliki masyarakat terbanyak di Indonesia. Sudah pastinya Jawa Barat kaya akan sebuah tradisi atau kebiasaan adat yang merupakan warisan dari para nenek moyang pada zaman dahulu.

Terdapat sebuah persamaan antara bentuk upacara adat yang ada di Jawa Barat dengan sebuah upacara di daerah Jawa Tengah dan juga Jawa Timur. Hanya saja ada beberapa perbedaan untuk memperkuat ciri khas masing-masing daerah tersebut.

Penjelasan Upacara Adat Jawa Barat

Penjelasan Upacara Adat Jawa Barat
Penjelasan Upacara Adat Jawa Barat

Selain dengan adanya pakaian adat Jawa Barat dan Tarian adat Jawa Barat, ternyata upacara adat yang ada di ibu kotanya Bandung ini setelah kami hitung mencapai puluhan jumlahnya. Sebuah kekayaan budaya yang wajib dibanggakan oleh Negara Indonesia ini. Upacara yang ada telah meliputi beberapa keluarga dan juga masyarakat, ada juga untuk kepentingan bersama dan pribadi.

Keberadaannya harus mendapatkan sebuah perhatian khusus dan serius oleh pemerintahan daerah, pemerintah provinsi Jawa Barat dan juga pemerintah pusat agar terus dilestarikan.

Jangan sampai dari tradisi yang sudah ada dari puluhan bahkan ratuhan tahun usianya hilang begitu saja di telan zaman dan dimakan sejarah. Sangat disayangkan sekali jika hal ini terjadi.

Peran serta masyarakat, termasuk kami, dan terutama Anda juga tidak kalah pentingnya. Mari untuk sama-sama kita jaga segala macam bentuk tradisi yang ada mulai Sabang sampai Merauke ini.

Ok, tanpa berfikir panjang dan berlama-lama, langsung akan kami bahas satu persatu upacara adat yang ada di daerah Jawa Barat.

Upacara Adat Jawa Barat

Upacara Adat Jawa Barat
Upacara Adat Jawa Barat

Dalam penyampaian uraian berikut ini, kami mengambil dari beberapa sumber media online. Anda dapat menambahkan dan juga menyempurnakan artikel ini. Berikut ini adalah penjelasan tentang upacara adat yang ada di daerah Jawa Barat:

1. Upacara Ngalaksa

Pada pembahasan pentama yaitu sebuah kegiatan adat di provinsi Jawa Barat yang berikut ini bernama Ngalaksa. Pada umumnya tradisi Ngalaksa ini dapat dijumpai di daerah Ranca Kalong, Sumedang, Jawa Barat.

Prosesi adatnya yaitu upacara ini digelar dengan membawakan padi ke lumbung dengan menggunakan rengkong atau bambo panjang berlubang untuk membawa beras.

Untuk pemilihan waktu pelaksanaan upacara adat Ngalaksa ini digelar di bulan Juni, setahun sekali. Salah satu hal yang unik ditemukan yakni terletak musik yang mempunyai ritme sama dengan orang yang sedang berjalan, hal ini telah terlihat pada rengkong yang telah digoyang-goyangkan.

Tujuan dari upacara adat Ngalaksa ini sebagai salah satu wujud rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen yang telah tercapai olah masyarakat sekitar.

2. Upacara Reuneuh Mundingeun

Pada pembahasan selanjutnya, nama tradisi yang ada di daerah Jawa Barat yaitu Reuneuh Mundingeun yang merupakan salah satu upacara tradisional warga Kota Bandung.

Kebiasaan ini yang ditujukan kepada ibu hamil yang umur kandungannya sudah lebih dari 9 bulan, namun juga belum lahir bayi yang ada di dalam kandungannya tersebut.

Adapun tujuan dari adat ini yaitu si ibu jangan sampai meniru perilaku seekor kerbau jika hamil.

Prosesi dari upacara adat Reuneuh Mundingeun ini dilaksanakan dengan cara membersihkan si ibu hamil dan juga mengaraknya keliling rumah sebanyak 7 kali. Usai prosesi diaraknya si ibu hamil tersebut disuruh untuk masuk ke rumah tempat tinggalnya.

Kegiatan tersebut untuk ditujukan pula dengan berharap agar Tuhan Yang Maha Esa dapat segera memberikan karunianya agar si ibu hamil dapat segera melahirkan dengan mudah.

3. Upacara Gusaran

Pada poin ketiga ini, menjelasakan bahwa upacara Gusaran adalah sebuah proses upacara tradisional yang ditujukan kepada anak wanita dengan cara meratakan gigi anak perempuan dengan sebuah alat khusus.

Selain itu juga, pada kebiasaan adat ini si anak perempuan juga akan ditindik atau dilubangi telinganya kemudian akan dikenakan anting – anting pada daun telinganya.

4. Upacara Ngirab atau Rebo Wekasan

Upacara adat Jawa Barat ini telah bernilai relgius. Masyarakat yang berda di daerah Sungai Drajat, Cirebon, biasa melakukan upacara Ngirab atau Rebo Wekasan ini.

Tradisi ini dapat ditandai dengan berziarah ke petilasan atau makam Sunan Kalijaga, yang biasa dilaksanakan pada hari Rabu-Minggu terakhir bulan Shafar.

Alasan dalam pengambilan waktu tadi telah dianggap sebagai salah satu hari terbaik untuk melenyapkan bala dan juga kesialan kehidupan. Ada acara lomba mendayung yang telah dilakukan setelah upacara adat ini berakhir.

5. Upacara Ngalungsur Pusaka

Upacara adat Ngalungsur Pusaka ini pada umumnya dapat dijumpai di daerah Garut, Jawa Barat. Tradisi ini dapat dipimpin oleh seorang juru kunci atau kuncen yang merupakan bukti bahwa mereka masih tetap melestarikan dan juga melaksanakan sebuah tradisi leluhurnya juga dapat mensosialisasikan keberadaan dari benda-benda pusaka peninggalan Sunan Rohmat Suci.

Pada kebiasaan tradisional Ngalungsur Pusaka ini, peserta upacara yang hadir dapat menyaksikan proses pensucian benda-benda pusaka tersebut.

Benda-benda pusaka yang disucikan tersebut adalah sebuah simbol konduite juga sebuah perjuangan Sunan Rohmat Kudus dalam memperjuangkan Islam ketika beliau masih hidup. Daerah Jawa memang menjadi salah satu daerah tempat penyebaran dakwah Islam pada zaman dahulu.

6. Upacara Ngunjung atau Munjung

Tradisi Mujung atau dalam kata lainnya yaitu Ngunjung ini berasal dari kata Kunjung, yaitu mengunjungi lantas untuk berdoa di makam para leluhur atau orang tua. Kegiatan ini sebagai salah satu perwujudan atas rasa syukur dari masyarakat.

Upacara ini termasuk kedalam upacara adat daerah Jawa Barat uang biasanya dilaksanakan oleh masyarakat.

Adapun beberapa tujuan dari diadakannya upacara ini adalah untuk dapat melestarikan budaya dan juga memohon keselamatan. Tidak sembarang waktu, ada sebuah waktu tertentu, yakni dilaksanakan pada bulan Syuro dan juga bulan Mulud atau kerap juga dilaksanakan sehabis panen padi.

Upacara ini tergolon ke dalam upacar adat daerah Jawa Barat yang pada umumnya dilaksanakan oleh masyarakat yang berada di daerah Indramayu, Cirebon, dan juga daerah sekitarnya.

Tempat upacara adat ini pada umumnya berlokasi di makam leluhur serta tokoh agama yang telah disegani dan juga dipercaya mempunyai nilai keramat.

Rangkaian dari kegiatan yang ada umumnya menampilkan kesenian khas, seperti wayang kulit dan juga dibeberapa tempat menampilkan sebuah kesenian darama sandiwara.

Tampak meriah di karenakan dalam pagelarannya tersebut,masyarakat biasanya berbondong-bondong memawa nasi dan juga beberapa makanan tradisional lainnya.

7. Upacara Bubur Asyura

Perlu kalian ingat kembal bahwa tradisi Bubur Asyura sama sekali tidak ada sebuah hubungan dengan Hari Asyura atau hari untuk memperingati wafatnya Imam Husein, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam peristiwa di Karbala.

Tradisi Bubur Asyura ini digelar oleh masyarakat Cirebon setiap 10 Muharam ini dihubungkan dengan sebuah peristiwa Nabu Nuh as. Akan tetapi, pada pelaksanaan tradisi ini dikaitkan pula dengan Dewi Kesuburan, yakni Ny Pohaci Sanghyang Sri.

Warga setempat mempunyai sebuah keyakinan bahwa kebiasaan adat Bubur Asyura ini dapat mendatangakan kesejahteraan dan juga sebuah ketentraman.

Tempat yang digunakan berada di bagian luar rumah salah seorang warga, dapat juga di pinggir sungai, di lapangan, atau berada di lokasi lain yang telah ditentukan oleh para pelaku upacara.

Membutuhkan dana untuk memenuhi perlengkapan untuk melaksanakan upacara adat, dan juga berbagai perlengkapan, misalnya yaitu sesajen, benda keramat, lokasi upacara, kesenian, dan tidak lupa juga peralatan pembuat bubur.

8. Upacara Nyalawean

Upacara Nyalawean ini adalah sebuah kebiasaan adat di daerah provinsi Jawa Barat yang bersifat keagaman.

Tujuan dari kegiatan upacara adat ini yaitu untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Tempat pelaksanaanya yaitu berada di alun-alun Desa Trusmi, Kabupaten Cirebon.

Kebiasaan dari upacara adat ini biasanya berlangsung memakan waktu selama 5 hari dan juga dilaksanakan 12 hari setelah acara peringatan di Keraton Cirebon. Ziarah ke makam para luluhur juga dapat dilaksanakan, dipercaya untuk mendapatkan kesejahteraan, rahmat, dan juga sebuah kabahagiaan.

9. Upacara Adat Seren Taun

Tradisi Seren Taun merupakan sebuah upacara dimana intinya menyangkut padi dari sawa ke lumbug dengan menggunakan Rengkong atau pukulan khas yang terbuat dari bahan bambu dan diiringi tetabuhan alat musik tradisional.

Jika Anda ingin menjumpai tradisi Seren Taun ini, bisa datang ke daerah Cigugur, Kuningan dan juga Sirnarasa Cisolok Sukabumi

Tujuan diadakannya tradisi Seren Taun ini sebagai salah satu ungkapan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa dikarenakan sebuah keberhasilan panen dan juga permohonan hasil pertanian yang lebih baik dimasa panen yang akan mendatang.

Ciri khas dari upacara adat Seren Taun ini di prosesi dengan laporan segala hasil tani yang sudah dicapai agar dapat dinikmati para pejabat yang menghadiri upacara adat ini. Masyarakat setempat menamakan prosesi in dengan sebuatan Seba.

10. Upacara Ngarot

Masyarakat setempat pada umumnya menggelar upacara Ngarot di daerah Indramayu, Jawa Barat. Kegiatan adat ini telah dilaksanakan pada saat musim tanam dimulai atau pada musim penghujan.

Salah satu bentuk acaranya yaitu dengan mengadakan arak-arakan ke arah balai desa. Adapun tujuan diadakan upacara adat ini yaitu sebagai rasa syukur kepada Tuhan dan juga memohon keberkahan dari hasil taninya.

11. Upacara Sepitan atau Khitanan

Upacara adat Khitanan atau Sepitan ini dilaksanakan untuk seorang anak laki-laki yang berdasarkan kepercayaan agama Islam, dengan tujuan agar alat vital pengantin sunat higienis dari najis dan juga kotoran. Umat Islam telah meyakini khitanan merupakan sunnah yang harus diterapkan karena sifatnya wajib.

Sedangkan untuk upacara adat Sepitan ini diperuntukan untuk anak perempuan ketika masih bayi.

Khitanan pada umumnya dilakukan pada saat anak berusia 6 tahun dengan mengundang seorang mantra atau dokter. Kerap juga melibatkan para masyarakat dari kerabat dan juga tetangga terdekat rumah untuk turut menyaksikan.

12. Upacara Tingkeban  atau Tujuh Bulan

Upacara adat provinsi Jawa Barat ini yang berhubungan dengan sebuah kehidupan manusia lainnya adalah bernama Tingkeban atau Tujuh Bulan. Kebiasaan dari adat ini telah diterapkan ketika seorang ibu sedang mengandung tujuh bulan kandungannya tersebut.

Tingkeban sendiri berasal dari kata Tingkeb yang mempunyai arti tertutup. Maksudnya adalah si ibu tidak diperbolehkan bercampur dengan suaminya selama 40 hari setelah persalinan dan juga sebagai tanda agar si ibu mengurangi porsi kerjaannya, sebab sedang mengandung besar.

13. Upacara Adat Pada Pernikahan

Di daerah Jawa Barat ada berbagai macam upacara adat dalam prosesi adat pernikahannya, yaitu upacara yang telah digelar sebelum proses akad nikah, dan juga dapat dilaksanakan sesudah akad nikah.

Tradisi yang dapat dilakukan sebelum prosesi akad nikah yaitu Neudeun Omong, Ngalamar, Seserahan, dan juga Ngeuyeuk Seureuh.

Kemudian tradisi yang telah dilakukan pasca akad nikah adalah Mumunjungan, Sawer, Nincak Endog, Buka Pintu, serta Huap Lingkung.

Neudeun Omong adalah kunjungan orang tua pria kepada orang tua sang wanita untuk bersilaturahmi dan juga menyampaikan kabar kalau si perempuan akan dilamar oleh pria tersebut.

Ngalamar adalah sebuah kunjungan orang tua pria untuk dapat meminang perempuan, serta membahas rencana pernikahan mereka.

Sedangkan untuk Seserahan adalah sebuah proses menyerahkan si pria calon pengantin kepada calon mertuanya untuk dinikahkan kepada si perempuannya tersebut.

14. Upacara Tembuni

Tembuni adalah salah satu upacara adat suku Sunda yang memliki tujuan untuk memelihara ari-ari atau placenta dari bayi tersebut. Hal ini dikarenakan Placenta atau ari-ari sang bayi harus dirawat dengan sebaik-baiknya.

Placenta bayi ini kemudian dipelihara dengan cara memasukannya ke dalam kain putih yang disertai dengan garam, asam, dan gula merah untuk kemudian dikubur di dalam tanah di sebuah pekarangan rumah si ibu hamil tersebut.

Adapun tujuan dengan diadakannya upacara adat Tembuni ini agar si anak kedepannya dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang bahagia tanpa adanya sebuah kemalangan apapun dalam kehidupannya kelak ketika dewasa dan juga menikah sampai hari tuanya.

15. Upacara Adat Nenjrag Bumi

Nenjrag Bumi adalah salah satu upacara adat khas Sunda yang biasa dilakukan oleh warga Kota Bandung. Kegiatan adat Nenjrag Bumi ini ditujukan kepada anak bayi agar kedepannya tidak menjadi ketakukan atau gampang kaget atas gangguan dari luar

Upacara adat Nenjrag Bumi ini dapat dilaksanakan dengan cara meletakkan anak bayi diatas lantai yang telah terbuat dari bambu yang sedang dibelah, kemudian lantai bambu tersebut diinjak dan kemudian dihentak-hentakan sebanyak 7 kali.

Aksi tersebut adalah sebuah terapi untuk sang bayi agar selanjutnya tidak mudah kaget dan juga menjadi sosok yang pemberani.

16. Upacara Ekah

Nah, jika yang berada di Jawa yaitu Akekah, maka di daerah Kota Bandung ini ada namanya yaitu Ekah. Ekah merupakan salah satu tradisi adat khas Sunda dimana setelah kelahiran bayi pada usia 7 hari atau 14 hari atau juga 21 hari, maka si orang tua tersebut wajib untuk menyembelih kambing untuk dapat menembus jiwa sang bayi dari Tuhan Yang Maha Esa.

Jika anaknya tersebut wanita maka kambingnya harus ada 1 ekor dan jika anaknya seorang laki-laki maka jumlah kambingnya harus ada 2 ekor.

Budaya ini dapat ditujukan untuk mensucikan jiwa sang bayi lahir dan bathin sekaligus sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas semua karunia pemberian keturunan kepada kita sebagai hambanya.

17. Upacara Nurunkeun

Nurukeun adalah salah satu upacara adat khas Suku Sunda yang diperuntukan kepada sang anak bayi dimana anak tersebut wajib diajak keluar rumah dan juga mengenali lingkungan sekitarnya. Waktu pelaksanaan upacara Nurukeun ini adalah pada usia 7 hari setelah bayi lahir.

Pada sebuah prosesi upacara adat Nurukeun ini, setelah bayi diajak keluar halaman rumah, maka pihak dari keluarga wajib membuat pohon yang diatasnya digantungkan banyak mainan yang kemudian pada nantinya mainan-mainan tersebut dijadikan sebuah rebutan oleh anak-anak kecil.

18. Upacara Cukuran

Cukuran adalah salah satu prosesi pencukuran rambut sang bayi pada saat usia 40 hari. Tradisi Cukuran ini biasanya diawali dengan puji-pujian dimana nantinya sang bayi akan dipotong  rambutnya sedikit demi sedikit oleh beberapa orang yang ada di sekitarnya, mulai dari pihak keluarga sampai sanak family terdekat, tidak juga pula melibatkan para tetangganya.

Ada pun beberapa tujuan dari upacara Cukuran ini untuk dapat membersihkan najis pada sang bayi agar dapat bersih lahir dan bathin. Selain itu juga tujuannya semoga anak tersebut menjadi anak yang sehat dan bahagia dalam masa tumbuh dan berkembangnya..

19. Upacara Turun Taneuh

Turun Teneuh adalah salah satu upacara adat yang dapat dilakukan kepada sang bayi oleh pihak keluarganya. Momen dari pelaksanaannya yaitu ketika sang bayi akan menginjakkan tanah untuk pertama kalinya.

Usai bayi tersebut menginjakkan tanah untuk pertama kalinya, maka setelah itu digelar pula sebuah prosesi sang bayi yang wajib untuk memilih aneka pemberian orang tuanya seperti padi, emas, uang, dan lain sebagainya.

Mitos yang telah beredar menyatakan bahwa apa yang telah diambil oleh sang bayi itulah akan menjadi jalan hidup yang nantinya akan ditempuh oleh sang bayi tersebut. Misalnya yaitu ketika sang bayi mengambil uang, maka telah diyakini sang bayi akan dipermudahkan dalam proses mencari rejeki dalam kehidupannya kelak.

20. Upacara Gusaran

Tradisi Gusaran adalah salah satu upacara adat tradisional dimana ditunjukan kepada anak perempuan dengan cara meratakan gigi anak perempuan menggunakan alat khusus. Dalam upacara adat Gusaran ini si anak wanita juga akan dilubangi telinganya dan kemudian akan kenakan anting –  anting pada daun telinganya.

Tujuan dari tradisi Gusaran ini untuk mempercantik diri sang anak perempuan ketika beranjak dewasa nantinya.

21. Tradisi Pesta Laut

Di daerah provinsi Jawa Barat, upacara pesta bahari ini sering juga dilakukan, misalnya di daerah Pangandaran, Ciamis, dan juga Pelabuhan Ratu, Sukabumi, mauou daerah pesisir pantai lainnya seperti daerah Indramayu dan Cirebon.

Pada saat penerapan upacara adat ini, perahu-perahu dari nelayan mengangkut sesajen yang telah dihiasi aksesoris warna-warni sehingga tampak indah dipandang oleh mata.

Kepala kerbau yang dibungkus kain putih tidak lupa untuk dibawa sebagai persembahan dan juga melemparkannya ke bahari sebagai salah satu simbol hadiah kepada para penguasa lautan dan kabarnya juga untuk penolak bala.

Kebiasaan dari upacara adat ini diadakan setiap setahun sekali ini telah ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur dan juga memohon keselamatan pada saat melaut.

Alat musik tradisional Indonesia umumnya ikut mengiringi proses kebiasaan adat ini dari awal sampai akhir.

22. Upacara Ruwatan Bumi

Kegiatan adat Ruwatan Bumi ini dapat dilakukan setiap bulan Februari di Kabupaten Subang. Ruwatan ini dapat juga dikatakan Ngaruwat. Ngaruwat sendiri, menurut masyarakat yang telah mengadakannya mempunyai beberapa manfaat, seperti kenyamanan, menjada keamanan, dan juga kesejahteraan kehidupan pertanian.

Pada pagelaran upacara adat Ruwatan Bumi ini, akan digelar sebuah kesenian gemyung pada malam harinya. Kemudian pada pagi harinya, masyarakat mengarak Dewi Sri ke makam leluhurnya, diiringi oleh kuda kosong, membawa parupuyan, sesepuh, panteret buah kelapa sambil menyanyi beluk.

Selain itu juga, acara ini diiringi oleh seni gemyung, penari yang membawa janur, penari yang membawa hanjuang, pencak silat, seni dogdog reog, tanji, genjdring, dan juga seluruh warga yang mengiringinya dari belakang.

Upacara adat Ruwatan Bumi ini ditujukan sebagai salah satu ungkapan rasa syukur, silaturahmi masyarakat, tolak bala, dan juga penghormatan kepada para leluhurnya.

Penutup

Nah, teman-teman demikian pembahasan tentang upacara adat Jawa Barat yang telah saya tulis secara singkat dan jelas untuk Anda. Semoga memberikan banyak sekali manfaat dan dapat menjadi saran untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia dari waktu ke waktu. Jangan lupa share artikel ini ke teman-teman kalian juga ya, Terimakasih.

Baca Juga : Senjata Tradisional Jawa Barat

25+ Upacara Adat Jawa Barat Penjelasan, Tujuan, dan Gambar {Lengkap}

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *